Friday, April 17, 2020

Syeikh Abdul Karim Al-Makki - Pengalaman Membesar Di Dalam Masjidil Haram

https://www.youtube.com/watch?v=ZXuW9uWeAqA
https://www.youtube.com/watch?v=DKDT12BDm_Y
https://www.youtube.com/watch?v=qnKbk03EuJU

Sheikh Abdul Karim Omar Al-Fatani Al-Makki

Beliau berketurunan Melayu Fathani, dilahirkan pada 29 Mac 1979 di Kota Suci Makkah Al-Mukaramah, Arab Saudi, dibesarkan dan mendapat pendidikan Al Quran di Masjid Al-Haram.


Seusia 8 tahun , Sheikh Abdul Karim sering mengikut ayahnya mempelajari dan mendalami talaqqi dan tahfiz al-Quran di Masjid al-Haram .

Melanjutkan pelajarannya di Masjid Abdullah bin Abbas di Taif , Mekah .

Sewaktu berusia 14 tahun , dia pernah menjadi Imam terawih di sebuah masjid di Toif , Mekah .

Belajar di sekolah pondok di Pattani dan Thanawi di Maahad Darul Maarif , Thailand . Mempunyai diploma jurusan Syariah , Maahad 'Ali Li al-Dirasat al-Islamiyyah wal 'Arabiyyah ( MADIWA ) , Perak .

Seusai tamat pembelajarannya dalam jurusan syariat Islam di Universtiti al-Azhar di Mesir , beliau mendapat tawaran biasiswa melanjutkan Sarjana Mudanya di Universiti King Saud , Arab Saudi dalam jurusan Pendidikan Tafsir dan Hadis .

Sheikh Abdul Rahman Abdul Azizi al-Sudais , Imam Besar Masjid al-Haram ketika membuat kunjungan ke Kuala Lumpur , Sheikh Abdul Karim memperdengarkan bacaan surah al-Fatihah dan ayat-ayat suci al-Quran dihadapan as-Sudais. Berkebolehan meniru lebih 15 suara bacaan ayat suci al-Quran , termasuk Sheikh Maasyari al-Afaasy dan Sheikh Maher Muaqliyy dan as-Sudaisi sendiri.

Tertarik dengan bacaan nya itu , as-Sudais memberikan anugerah kepada Sheikh Abdul Karim sebagai as-Sudais kedua di Malaysia .

As-Sudais juga, pernah menawarkan Sheikh Abdul Karim menjadi imam di Masjid al-Haram .


Sekarang Sheikh Abdul Karim bertugas sebagai Imam di Masjid Negeri Sultan Salahudin, Shah Alam.

Berkahwin dengan orang Balik Pulau, Pulau Pinang.





Tips Hafal al-Quran

https://www.youtube.com/watch?v=kYiB3iNYKi8


1. Al-Quran dihadapkan ke wajah, naskhah sedikit ke kiri,  wajah tetap menghadap ke depan.

2. Jangan baca tetapi Scan ayat / baris dengan mata. Rileks tarik nafas dalam keluarkan nafas perlahan, kosongkan pikiran jangan memikirkan apapun kemudian tutup mata bayangkan. 

3. Baca dengan apa yang ada di dalam otak. Semakin lancar membaca Alquran semakin cepat mempraktikan metode hafalan ini. Kosongkan pikiran fokus menghafal dan hati yakin pasti bisa.

Istilah dalam Ilmu Tajwid




ISTILAH-ISTILAH BACAAN KHAS AL-QURAN
1.ISYMAM ( اشمام )   •
2.RAUM ( روم )
3.IMALAH ( إماله )
4.TAS-HIL ( تسهيل ) 
5.SAKTAH  (سكته )
6. NAQL ( نقل )


ISYMAM
Memuncungkan dua bibir mulut dengan ada ruang di antaranya untuk melepaskan udara tanpa mengeluarkan suara selepas mematikan sesuatu huruf untuk memberi isyarat huruf tersebut berbaris dhommah. Contoh: surah Yusuf, ayat 11.

https://www.youtube.com/watch?v=NRLax-eNE7c

RAUM
Membunyikan sebahagian huruf atau melemahkan suara huruf tersebut dan didengari oleh orang-orang yang berhampiran sahaja.

IMALAH
Pada bahasa : condong atau miring menurut istilah: membunyikan huruf Ra antara fathah dan kasrah atau antara alif dengan Ya. @ mencondongkan bacaan harakat fathah kepada harakat kasrah sekitar 2/3. Hud ayat 41.

Boleh dibaca re (x-ray), atau re (rare).

 https://www.youtube.com/watch?v=u1l6R2jIr20

TAS-HIL
Membunyikan huruf antara huruf Hamzah dan huruf Alif.
Fussilat ayat 44.

 https://www.youtube.com/watch?v=RB1blWJbLfA


SAKTAH
Berhenti sekadar 2 harakat sebelum menyambung bacaan dengan nafas yang sama. Menurut riwayat Hafs ada 2 hukum saktah:

Saktah Wajib dan Saktah Harus
Ada 4 tempat dalam al-Quran.


NAQL
Memindahkan harakat huruf yang hidup pada huruf yang mati sesudahnya (bertujuan untuk memudahkan).

Hujurat ayat 11. Bi'sal ismu

IBDAL 
al-Ahqaf ayat 4.
jika bermula disitu, dibaca iituni, bukan u'tuuni.

SIN KECIL
boleh dibaca dengan huruf sod atau sin, tetapi huruf yang di atas lebih diutamakan.
al-baqarah ayat 245.


Imam Ashim mengajarkan Al-Qur’an yang sanadnya berasal dari jalur sahabat Ali bin Abi Thalib kepada muridnya yaitu Hafs bin Sulaiman (Hafs). Sedangkan sanad yang berasal dari sahabat Abdullah bin Mas’ud, beliau mengajarkan kepada Abu Bakar bin Iyasy Syu’bah (Syu’bah). Para Ulama yang masyhur pada masa tabi’in banyak yang pernah berguru kepada Imam Ashim, diantaranya Hafs bin Sulaiman, Abu Bakar bin Iyasy Syu’bah, al-A’masy, Nua’im bin Maisarah, dan Atha’ bin Abi Rabah. Diantara murid-murid Imam Ashim tersebut hanya Hafs dan Syu’bah yang paling masyhur dan menjadi perawi utama.
Qira’ah Imam Ashim riwayat Hafs mulai berkembang dan menyebar luas pada masa pemerintahan Turki Utsmani yang didukung oleh banyaknya cetakan Al-Qur’an dari Arab Saudi sampai menyebar ke seluruh dunia, waktu penyebarannya terutama pada musim-musim haji.
Gharib menurut bahasa artinya tersembunyi atau samar, sedangkan menurut istilah Ulama qurra’, gharib artinya sesuatu yang perlu penjelasan khusus dikarenakan samarnya pembahasan atau karena peliknya permasalahan baik dari segi huruf, lafadz, arti maupun pemahaman yang terdapat dalam Al-Qur’an. Adapun bacaan-bacaan yang dianggap gharib (tersembunyi/samar) dalam qira’ah Imam Ashim riwayat Hafs diantaranya adalah : Imalah, Isymam, Saktah, Tashil, Naql, Badal dan Shilah.
Perbedaan bacaan-bacaan dalam qira’ah Imam Ashim riwayat Hafs dengan Imam qira’ah yang lain adalah lebih pada letak bacaan-bacaan tersebut. Berikut penjelasan tentang bacaan gharib menurut Imam Ashim riwayat Hafs :
1. Imalah
Imalah menurut bahasa berasal dari wazan lafadz ﺃَﻣَﺎﻝَ yaitu ﺃَﻣَﺎﻝَ – ﻳَﻤِﻴْﻞُ – ﺇِﻣَﺎﻟَﺔً yang artinya memiringkan atau membengkokan, sedangkan menurut istilah yaitu memiringkan fathah kepada kasrah atau memiringkan alif kepada ya’. Bacaan imalah banyak dijumpai pada qira’ah Imam Hamzah dan Al-Kisa’i, diantaranya pada lafadz-lafadz yang diakhiri oleh alif layyinah, contoh: ﺍﻟﻀُّﺤٰﻰ ﻗَﻠٰﻰ، ﺳَﺠٰﻰ، ﻫُﺪَﻯ , . Sedangkan pada riwayat Imam Hafs hanya ada satu lafadz yang harus dibaca imalah yaitu pada lafadz ﻣَﺠْﺮٰﻯﻬَﺎ dalam QS. Hud: 41 :
ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﺭْﻛَﺒُﻮﺍْ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺠْﺮﻯٰﻬَﺎ ﻭَﻣُﺮْﺳٰﻬَﺎٓ ۚ ﺇِﻥَّ ﺭَﺑِّﻰ ﻟَﻐَﻔُﻮﺭٌ ﺭَّﺣِﻴﻢٌ
Dalam ilmu qira’ah, ada satu bacaan yang hampir mirip dengan bacaan imalah, yaitu bacaan taqlil yang termasuk dalam qira’ah imam Warsy. Khususnya pada lafadz yang berwazan ﻓَﻌﻠﻰ، ﻓِﻌﻠﻰ، ﻓُﻌﻠﻰ , namun bacaan taqlil lebih mendekati fathah seperti halnya bunyi suara “re” pada kata “mereka”.
Sebab-sebab di-Imalahkannya lafadz “ ﻣَﺠْﺮٰﻯﻬَﺎ ” diantaranya adalah untuk membedakan antara lafadz “ ﻣَﺠْﺮٰﻯﻬَﺎ ” yang artinya berjalan di darat dengan lafadz “ ﻣَﺠْﺮٰﻯﻬَﺎ ” yang artinya berjalan di laut. Dalam salah satu kamus bahasa arab dijelaskan bahwa lafadz “ ﻣَﺠْﺮٰﻯﻬَﺎ ” berasal dari lafadz “ ﺟَﺮٰﻯ ” yang artinya berjalan atau mengalir dan lafadz tersebut dapat dipakai dalam arti berjalan di atas daratan maupun berjalan di atas lautan (air), namun kecenderungan perjalanan di permukaan laut (air) tidak stabil seperti halnya di daratan. Terkadang diterjang ombak kecil dan besar atau terhempas angin, sehingga sangat tepat apabila lafadz “ ﻣَﺠْﺮٰﻯﻬَﺎ ” tersebut di- Imalahkan.
2. Isymam
Isymam artinya mencampurkan dammah pada sukun dengan memoncongkan bibir atau mengangkat dua bibir. Dalam qira’ah riwayat Hafs, Isymam terdapat pada lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨَّﺎ ” yaitu pada waktu membaca lafadz tersebut, gerakan lidah seperti halnya mengucapkan lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨُﻨَﺎ ” sehingga hampir tidak ada perubahan bunyi antara mengucapkan lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨَّﺎ ” dengan mengucapkan “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨُﻨَﺎ ”. Dengan kata lain, asal dari lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨَّﺎ ” adalah lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨُﻨَﺎ ”. Kalau diteliti lebih dalam, ternyata rasm utsmani hanya menulis satu nun yang bertasydid. Ada pertanyaan muncul, dimana letak dammahnya?sehingga untuk mempertemukan kedua lafadz tersebut dipilihlah jalan tengah yaitu bunyi bacaan mengikuti rasm, sedangkan gerakan bibir mengikuti lafadz asal.
Dalam qira’ah imam Ibnu Amir riwayat As-Susy, bacaan isymam dikenal dengan sebutan idgham kabir, yaitu bertemunya dua huruf yang sama dan sama-sama hidup lalu melebur menjadi satu huruf bertasydid. Dalam qira’ah Imam Ashim riwayat Hafs, hanya dikenal satu idgham saja, yaitu idgham shaghir yakni mengidghamkan dua huruf yang sama yang salah satunya mati. Menurut bahasa, bahwa lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨَّﺎ ” dapat difahami berasal dari lafadz “ ﻟَﺎ ﺗَﺄْﻣَﻨُﻨَﺎ ” yang terdapat dua nun yang diidharkan, nun yang pertama di rafa’kan dan yang kedua dinashabkan. Nun yang pertama dirafa’kan karena termasuk fi’il mudlari yang tidak kemasukan “amil nawashib” maupun jawazhim.
3. Saktah
Saktah menurut bahasa berasal dari wazan lafadz ﺳُﻜُﻮْﺗًﺎ ﻳَﺴْﻜُﺖُ – ﺳَﻜَﺖَ – yang artinya diam, tidak bergerak. Sedangkan menurut istilah ilmu qira’ah, saktah ialah berhenti sejenak sekedar satu alif tanpa bernafas. Dalam qira’ah Imam Ashim riwayat Hafs bacaan saktah terdapat di empat tempat yaitu : QS. Al-Kahfi: 1, QS. Yaasiin: 52, QS. Al-Qiyamah: 27 dan QS. Al-Muthafifin: 14.
Saktah pada QS. Al-Kahfi: 1, menurut segi kebahasaan susunan kalimatnya sudah sempurna. Dengan kata lain, jika seorang qari’ membaca waqaf pada lafadz ﻋِﻮَﺟًﺎ , sebenarnya sudah tepat karena sudah termasuk waqaf tamm. Namun apabila dilihat dari kalimat sesudahnya, ternyata ada lafadz ﻗَﻴِّﻤَﺎ sehingga arti kalimatnya menjadi rancu atau kurang sempurna.
Lafadz ﻗَﻴِّﻤَﺎ bukanlah menjadi sifat/na’at dari lafadz
ﻋِﻮَﺟًﺎ , melainkan menjadi hal atau maf’ul bihnya lafadz lafadz ﻋِﻮَﺟًﺎ . Apabila lafadz ﻗَﻴِّﻤَﺎ menjadi na’atnya lafadz
ﻋِﻮَﺟًﺎ akan mempunyai arti : “Allah tidak menjadikan al-Quran sebagai ajaran yang bengkok serta lurus ”. Sedangkan apabila menjadi hal atau maf’ul bih akan menjadi : “Allah tidak menjadikan al-Quran sebagai ajaran yang bengkok, melainkan menjadikannya sebagai ajaran yang lurus “. Menurut Ad-Darwisy, kata ﻗَﻴِّﻤًﺎ dinashabkan sebagai hal (penjelas) dari kalimat ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَﻪُ ﻋِﻮَﺟًﺎ , sedang Az-Zamakhsyari berpendapat bahwa kata tersebut dinashabkan lantaran menyimpan fi’il berupa ” ﺟَﻌَﻠَﻪُ “. Berbeda juga dengan pendapat Abu Hayyan, menurutnya kata ﻗَﻴِّﻤًﺎ itu badal mufrad dari badal jumlah “ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَﻪُ ﻋِﻮَﺟًﺎ “. Tidak mungkin seorang qari’ memulai bacaan (ibtida’) dari ﻗَﻴِّﻤًﺎ , sebagaimana juga tidak dibenarkan meneruskan bacaan (washal) dari ayat sebelumnya. Dengan pertimbangan alasan-alasan diatas, baik diwaqafkan maupun diwashalkan sama-sama kurang tepat, maka diberikanlah tanda saktah.
Pada saktah QS. Yaasiin: 52 di dalam kalimat: ﻣِﻦْ ﻣَﺮْﻗَﺪِﻧَﺎ ﺳﻜﺘﺔ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻭَﻋَﺪَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦُ . Menurut Ad-Darwisy lafadz ﻫٰﺬَﺍ itu mubtada’ dan khabarnya adalah lafadz ﻣَﺎ ﻭَﻋَﺪَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦُ . Berbeda halnya dengan pendapat Az-Zamakhsyari yang menjadikan lafadz ﻫٰﺬَﺍ itu na’at dari ﻣَﺮْﻗَﺪِ, sedangkan ﻣَﺎ sebagai mubtada’ yang khabarnya tersimpan, yaitu lafadz ﺣﻖ atau ﻫٰﺬَﺍ . Dari segi makna, kedua alasan penempatan saktah tersebut sama-sama tepat. Pertama, orang yang dibangkitkan dari kuburnya itu mengatakan: “Siapakah yang membangkitkan dari tempat tidur kami (yang) ini. Apa yang dijanjikan Allah dan dibenarkan oleh para rasul ini pasti benar”. Kedua, orang yang dibangkitkan dari kuburnya itu mengatakan: “Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami. Inilah yang dijanjikan Allah dan dibenarkan oleh para rasul ini pasti benar”. Dengan membaca saktah, kedua makna yang sama-sama benar tersebut bisa diserasikan, sekaligus juga untuk memisahkan antara ucapan malaikat dan orang kafir.
Adapun lafadz ﻣَﻦْ dalam QS. Al-Qiyamah: 27 pada kalimat ﻣَﻦْ ﺳﻜﺘﺔ ﺭَﺍﻕٍ dan lafadz ﺑَﻞْ dalam QS. Al-Muthafifin: 14 pada kalimat ﺑَﻞْ ﺳﻜﺘﺔ ﺭَﺍﻥَ adalah untuk menjelaskan fungsi ﻣَﻦْ sebagai kata tanya dan fungsi ﺑَﻞْ sebagai penegas dan juga untuk memperjelas idharnya lam dan nun, sebab apabila lam dan nun bertemu dengan ra’ seharusnya dibaca idgham, namun karena lafadz ﻣَﻦْ dan ﺑَﻞْ dalam kalimat ﻣَﻦْ ﺳﻜﺘﺔ ﺭَﺍﻕٍ dan ﺑَﻞْ ﺳﻜﺘﺔ ﺭَﺍﻥَ mempunyai makna yang berbeda, maka perlu dipisahkan (diidharkan) dengan waqaf saktah.
Di samping itu, Imam Ashim juga menganjurkan membaca saktah, pertama, pada akhir QS. Al-Anfaal:75 dan permulaan QS. At-Taubah. Alasannya secara bahasa dipakai untuk memilah dua surat yang berbeda yang mana permulaan surat At-Taubah tidak terdapat atau diawali dengan basmalah. Kedua, pada QS. Al-Haqqah: 28-29 dimaksudkan untuk membedakan dua ha’ yakni ha’ saktah ﻣَﺎﻟِﻴَﻪْ dan ha’ fi’il ﻫَّﻠَﻚَ .
4. Tashil
Tashil menurut bahasa artinya memberi kemudahan, keringanan atau menyederhanakan hamzah qatha’ yang kedua, adapun menurut istilah qira’ah artinya membaca antara hamzah dan alif . Dalam qira’ah Imam Ashim riwayat Hafs hanya ada satu bacaan tashil yaitu pada QS. Fusshilat: 44
ﻭَﻟَﻮْ ﺟَﻌَﻠْﻨٰﻪُ ﻗُﺮْﺀَﺍﻧًﺎ ﺃَﻋْﺠَﻤِﻴًّﺎ ﻟَّﻘَﺎﻟُﻮﺍ۟ ﻟَﻮْﻟَﺎ ﻓُﺼِّﻠَﺖْ ﺍٰﻳٰﺘُﻪُۥٓ ۖ ﺀَﺍَﻋْﺠَﻤِﻰٌّ ﻭَﻋَﺮَﺑِﻰٌّ …
Alasan lafadz ﺀَﺍَﻋْﺠَﻤِﻰٌّ dibaca tashil, karena apabila ada dua hamzah qatha’ bertemu dan berurutan pada satu lafadz, bagi lisan orang Arab merasa berat melafadzkannya, sehingga lafadz tersebut bisa ditashilkan (diringankan).
5. Naql
Naql menurut bahasa berasal dari lafadz ﻧَﻘَﻞَ – ﻳَﻨْﻘِﻞُ – ﻧَﻘْﻠًﺎ yang artinya memindah, sedangkan menurut istilah ilmu qira’ah artinya memindahkan harakat ke huruf sebelumnya. Dalam qira’ah Imam Ashim riwayat Hafs ada satu bacaan naql yaitu lafadz ﺑِﺌْﺲَ ﺍﻟْﺎِﺳْﻢُ pada QS. Al-Hujurat: 11. Alasan dibaca naql pada lafadz ﺍﻟْﺎِﺳْﻢُ adalah karena adanya dua hamzah washal, yakni hamzah al ta’rif dan hamzah ismu yang mengapit lam, sehingga kedua hamzah tersebut tidak terbaca apabila disambung dengan kata sebelumnya. Faidahnya bacaan naql ialah untuk memudahkan dalam mengucapkannya atau membacanya.
6. Badal (Mengganti)
Badal menurut bahasa artinya mengganti, mengubah, sedangkan maksud badal disini adalah mengganti huruf
hijaiyah satu dengan huruf hijaiyah lainnya. Diantara lafadz-lafadz yang di badal dalam Al-Qur’an menurut Imam Ashim riwayat Hafs yaitu :
Badal ﺀ dengan ﻱ ( ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮٰﺕِ ﺍﺋْﺘُﻮْﻧِﻲْ )
Yaitu mengganti hamzah mati dengan ya’, sebagian besar imam qira’ah sepakat mengganti hamzah qatha’ yang tidak menempel dengan lafadz sebelumnya dan jatuh sesudah hamzah washal dengan alif layyinah ( ﻯ ). Contoh pada QS. Al-Ahqaf : 4,
… ﺃَﻡْ ﻟَﻬُﻢْ ﺷِﺮْﻙٌۭ ﻓِﻰ ﭐﻟﺴَّﻤٰﻮٰﺕِ ۖ ﭐﺋْﺘُﻮﻧِﻰ ﺑِﻜِﺘَٰﺐٍۢ …
Cara membacanya, yaitu apabila seorang qari’ membaca waqaf pada lafadz ( ﻓِﻰ ﭐﻟﺴَّﻤَٰﻮَٰﺕِ ۖ ) maka huruf ta’ mati dan hamzah mati diganti ya’ ( ﻓِﻰ ﭐﻟﺴَّﻤٰﻮٰﺕْ ۖ ﺍِﻳْﺘُﻮﻧِﻰ ) sedangkan apabila dibaca washal tidak ada perubahan.
Badal ﺹ dengan ﺱ ( ﻭَﻳَﺒْﺼُۜﻂُ dan ﺑَﺼْۜﻄَﺔً )
Yaitu mengganti shad dengan siin, sebagian imam
qira’ah termasuk Imam Ashim mengganti ﺹ dengan
ﺱ pada lafadz ﻭَﻳَﺒْﺼُۜﻂُ dalam QS. Al-Baqarah : 245 dan lafadz ﺑَﺼْۜﻄَﺔً dalam QS. Al-A’raf : 69. Sebab-sebab digantinya huruf shad dengan siin pada kedua lafadz tersebut karena mengembalikan pada asal lafadznya, yaitu ﺑَﺴَﻂَ – ﻳَﺒْﺴُﻂُ .
Sedangkan pada lafadz ﺑِﻤُﺼَﻴْﻄِﺮٍ dalam QS. Al-Ghasyiyah : 22, huruf ﺹ tetap dibaca shad karena sesuai dengan tulisan dalam mushaf (rasm utsmani) dan menyesuaikan sifat ithbaq dengan huruf sesudahnya (tha’) yang mempunyai sifat isti’la’. Adapun pada lafadz ﭐﻟْﻤُﺼَۣﻴْﻄِﺮُﻭﻥَ dalam QS. At-Thur : 37, huruf ﺹ boleh tetap dibaca shad dan boleh dibaca siin karena, pertama, mengembalikan pada asal lafadznya, yaitu ﺳَﻴْﻄَﺮَ – ﻳُﺴَﻴْﻄِﺮُ , kedua, menyesuaikan sifat ithbaq dengan huruf sesudahnya (tha’) yang mempunyai sifat isti’la’.
7. Shilah
Menurut ijma’ para ulama qurra’, bahwa apabila ada ha’ dlamir yang tidak diawali dengan huruf mati, maka ha’ dlamir tersebut harus dibaca panjang dan perlu ditambahkan huruf mad setelahnya, alasannya untuk menguatkan huruf ha’ dlamir tersebut karena tidak alasan yang mengharuskan membuang huruf setelah ha’ dlamir ketika huruf sebelumnya hidup (berharakat). Namun para ulama qurra’ kecuali Ibnu Katsir kurang senang menggabungkan dua huruf mati yang dipisah oleh huruf lemah (ha’), sehingga mereka membuang huruf mad dan memanjangkan ha’ dlamirnya, contoh ﻟَﻪُ، ﺑِﻪِ , ini adalah madzhab imam Sibawaih. Sedangkan apabila ha’ dlamir tersebut diawali dengan huruf yang mati (sukun) maka harus dibaca pendek, contoh ﻣِﻨْﻪُ، ﺇِﻟَﻴْﻪِ .
Dalam qira’ah Imam Ashim riwayat Hafs ada satu ha’ dlamir yang tetap dibaca panjang walaupun diawali dengan huruf mati, yaitu pada kalimat ﻭَﻳَﺨْﻠُﺪْ ﻓِﻴْﻪٖ ﻣُﻬَﺎﻧًﺎ dalam QS. Al-Furqan : 69. Pada masalah ini, Imam Ashim riwayat Hafs sama bacaannya dengan Ibnu Katsir, yakni membaca shilah ha’ ( ﻓِﻴْﻪٖ ). Karena diketahui bahwa ha’ termasuk huruf lemah seperti halnya hamzah, sehingga apabila ha’ berharakat kasrah, maka sebagai ganti dari wawu mati adalah ya’ dimaksudkan untuk menguatkan huruf ha’, sehingga menjadi ﻓِﻴْﻬِﻲ . Dalam literatur orang Arab sendiri jarang sekali ditemui wawu mati yang diawali kasrah.
Alasan ha’ dibaca panjang pada lafadz ﻓِﻴْﻪٖ dalam QS. Al-Furqan : 69 adalah untuk mengembalikan pada asal lafadznya, yaitu ـﻪ berasal dari lafadz ﻫُﻮَ dan ketika disambung dengan lafadz ﻓِﻲْ akan menjadi ﻓِﻴْﻬُﻮَ , namun karena ha’ dlamir tersebut diawali dengan ya’ mati yang sebenarnya identik dengan kasrah, sehingga harakat ha’ perlu disesuaikan dengan harakat sebelumnya dan merubah huruf mad berupa wawu menjadi ya’ untuk menyesuaikan dengan kasrah maka menjadi ﻓِﻴْﻬِﻲ dan huruf mad berupa ya’ dirubah dengan kasrah berdiri, jadilah lafadz ﻓِﻴْﻪٖ . Ada juga yang menyebutkan bahwa ha’ yang terdapat pada lafadz ﻓِﻴْﻪٖ dalam QS. Al-Furqan : 69 adalah ha’ khafdli artinya ha’ panjang yang berfungsi merendahkan, hal ini sesuai dengan konteks ayat yang menghendaki dipanjangkannya huruf ha’ dlamir tersebut.
Ada juga ha’ dlamir yang dibaca pendek walaupun diawali dengan huruf mati yaitu dengan membaca ha’ dlamir berharakat dammah tanpa shilah. Lafadz-lafadz tersebut diantaranya terdapat pada lafadz ﻳَﺮْﺿَﻪُ ﻟَﻜُﻢْ dalam QS. Az-Zumar : 7. Alasan dibaca pendek ha’ dlamir berharakat dammah pada lafadz ﻳَﺮْﺿَﻪُ ﻟَﻜُﻢْ dan lafadz-lafadz sejenisnya adalah untuk mengembalikan pada rasm mushaf yang tidak ada wawu madnya sesudah ha’ dlamir.
Lain halnya dengan lafadz ﻋَﻠَﻴْﻪُ dalam QS. Al-Fath : 10, disini terdapat ha’ dlamir yang dibaca dammah walaupun jatuh setelah ya’ mati. Hal ini terkait dengan asbabun nuzul ayat tersebut yang intinya tentang sifat memenuhi janji setia kepada Nabi dan berjihad di jalan Allah. Sifat memenuhi janji tersebut merupakan sifat yang luhur mulia dan luhur (rif’ah). Dan penempatan harakat dammah pada lafadz ﻋَﻠَﻴْﻪُ memberikan nuansa kemuliaan dan keagungan sifat (akhlak). Karena suasana sosiologis dan keberadaan lafadz tersebut berada pada ayat yang menunjukkan kemuliaan dan keluhuran. Sehingga ada ulama yang menyebutkan bahwa ha’ dlamir tersebut disebut sebagai ha’ rif’ah (ha’ keluhuran).
.
BACAAN- BACAAN LAIN YANG DIANGGAP GHARIB
Dalam qira’ah Imam Ashim riwayat Hafs juga terdapat bacaan-bacaan lain yang dianggap gharib, akan tetapi lebih pada tulisan atau rasmnya (rasm utsmani) dan cara membacanya. Bacaan-bacaan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Lafadz-lafadz yang dibaca pendek ketika washal dan panjang ketika waqaf ( ﻗﺼﺮ dan ﻣﺪ)
Lafadz ( ﺍَﻧَﺎ )
Sebab-sebab lafadz ﺍَﻧَﺎ dibaca pendek ketika washal ( ﺍَﻥَ ) kecuali lafadz ﺍَﻧَﺎﺏَ , ﺍَﻧَﺎﺑُﻮْﺍ , ﺍَﻧَﺎﺳِﻲَّ , ﺍﻟْﺎَﻧَﺎﻣِﻞَ , adalah karena fungsi alif tersebut hanya sebagai penjelas harakat seperti halnya menambahkan ha’ ketika waqaf (ha’ sakt). Disamping itu juga, apabila ada isim yang hurufnya sedikit lalu di baca waqaf dengan sukun, maka suaranya akan terlihat janggal, sehingga ditambahkanlah alif supaya suara nun tetap sebagaimana asal lafadznya.
Sedangkan tidak ditambahkannya alif pada waktu membaca washal pada lafadz tersebut adalah karena nun sudah berharakat. Ada juga lafadz yang cara membacanya hampir sama dengan lafadz ﺍَﻧَﺎ yaitu lafadz ﻟٰﻜِﻨَّﺎ pada QS. Al-Kahfi : 38, yakni apabila lafadz ﻟٰﻜِﻨَّﺎ dibaca washal maka nun harus dibaca pendek( ﻟٰﻜِﻦَّ ),sedangkan apabila dibaca waqaf maka nun tetap dibaca panjang ( ﻟٰﻜِﻨَّﺎ ). Hal ini karena lafadz ﻟٰﻜِﻨَّﺎ berasal dari lafadz ﺃﻧﺎ dan lafadz ﻟﻜﻦ .
Lafadz     ﺍﻟﺮَّﺳُﻮْﻟَﺎ، ﺍﻟﻈُّﻨُﻮْﻧَﺎ، ﻗَﻮَﺍﺭِﻳْﺮَﺍ
Sebagian ulama qurra’ membaca lafadz-lafadz diatas dengan harakat tanwin, sedangkan qira’ah Imam Ashim riwayat Hafs tidak memakai harakat tanwin pada lafadz-lafadz tersebut. Dan apabila membaca waqaf pada lafadz-lafadz tersebut, qira’ah Imam Ashim riwayat Hafs tetap menyertakan alif atau dibaca panjang, sedangkan tidak menyertakan (membaca) alif atau dibaca pendek apabila huruf terakhir lafadz-lafadz tersebut diwashalkan. Hal ini disebabkan karena mencantumkan alif pada lafadz-lafadz tersebut adalah mengikuti rasm utsmani dan juga lafadz-lafadz tersebut masuk dalam sighat muntahal jumu’ yang termasuk isim ghairu munsharif sehingga tetap mencantumkan alif tidak ditanwin. Sedangkan lafadz ﺍﻟﻈﻨﻮﻧﺎ، ﺍﻟﺮﺳﻮﻻ، ﺍﻟﺴﺒﻴﻼ walaupun bukan termasuk jama’, namun lafadz-lafadz tersebut disesuaikan dengan sya’ir yang pada akhir ba’itnya terdapat fathah yang dipanjangkan dengan alif. Sehingga lafadz-lafadz tersebut tetap dibaca panjang ketika waqaf dan dibaca pendek ketika washal.
Lafadz ﻣﺎﻟﻚ pada QS. Al-Fatihah: 4 dan ﻣﻠﻚ pada QS. An-Nas: 2
Qira’ah Imam Ashim riwayat Hafs membaca mim dengan alif (panjang) pada lafadz ﻣﺎﻟﻚ dalam QS. Al-Fatihah: 4, sedangkan beberapa Imam qira’ah yang lain membaca tanpa alif (pendek). Alasan Imam Ashim riwayat Hafs membaca dengan alif (panjang) adalah karena ada kaitannya dengan lafadz ﻣﺎﻟﻚ ﺍﻟﻤﻠﻚ pada QS. Ali Imran: 26 yaitu ﻗﻞ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻣﺎﻟﻚ ﺍﻟﻤﻠﻚ dan bukan tanpa alif yaitu ﻣﻠﻚ ﺍﻟﻤﻠﻚ juga karena lafadz ﻣﺎﻟﻚ berarti dzat yang memiliki, sedangkan lafadz ﻣﻠﻚ berarti tuan atau penguasa, tidak seperti halnya dalam lafadz ﻣﻠﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ (tanpa alif) yang artinya Tuhan manusia dan hal itu tidak sesuai dengan makna untuk kata hari pembalasan ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ .
Jadi, lafadz ﻣﺎﻟﻚ pada QS. Al-Fatihah: 4 dengan lafadz ﻣﻠﻚ pada QS. An-Nas: 2 tidaklah sama dalam membaca mimnya, terutama karena perbedaan segi maknanya sehingga dibedakan cara membacanya, walaupun beberapa Imam qira’ah selain Imam Ashim dan Al-Kisa’i membaca kedua lafadz tersebut sama-sama pendek ( ﻣﻠﻚ ).
2. Dibolehkannya membaca fathah atau dammah pada ﺽ dalam lafadz ﺿﻌْﻒ
Lafadz ﺿﻌْﻒ pada QS. Ar-Rum: 54 yang lafadznya dibaca tiga kali pada ayat tersebut adalah merupakan masdar dari lafadz ﺿﻌُﻒ – ﻳﻀﻌَﻒ sehingga beberapa Imam qira’ah berbeda cara membacanya. Imam Hamzah dan Syu’bah (salah satu murid Imam Ashim) membaca dlad pada lafadz ﺿﻌْﻒ dengan fathah, sedangkan sebagian Imam qira’ah yang lainnya dengan dammah.
Adapun Imam Hafs, membaca dlad pada lafadz
ﺿﻌْﻒ dengan fathah dan dammah. Hal ini disebabkan karena dalam ilmu sharaf, lafadz ﺿﻌُﻒ – ﻳﻀﻌَﻒ mempunyai dua masdar yaitu lafadz ﺿَﻌْﻒ dan lafadz ﺿُﻌْﻒ , seperti halnya lafadz ﻓﻘﺮ yang juga mempunyai dua masdar yaitu lafadz ﻓَﻘْﺮ dan lafadz ﻓُﻘْﺮ . Sehingga menurut qira’ah Imam Hafs huruf dlad pada lafadz ﺿﻌْﻒ boleh dibaca fathah dan boleh dibaca dammah.

Wednesday, April 15, 2020

Keluarga-keluarga Kandhala

 http://wirapendang.blogspot.com/2015/03/keluarga-keluarga-kandhala.html

Keluarga-keluarga Kandhala

Kawasan Kandhala, sebuah perkampungan yang melahirkan keturunan alim ulama . Gambar diakses dari google maps. Boleh diakses di sini

Kawasan Jhinjhana yang diakses menggunakan google maps. Boleh diakses di sini.
Di Kandhala, satu keluarga ternama lagi dihormati yang berketurunan Siddiqi (Keturunan Sayyidina Abu Bakar رضي الله عنه). Keturunan ini berasal dari keturunan ulama sufi yang hebat yang telah mendiami kawasan tersebut ratusan tahun dahulu. Ianya mempunyai dua keluarga iaitu satu di Kandhala dan satu lagi keluarga di Jhinjhana. Selepas beberapa abad, ianya telah dikenali sebagai keluarga yang banyak melahirkan tokoh-tokoh alim ulama dan Sufi . Keluarga ini dikenali dengan kesolehan dan akrabnya hubungan mereka dengan para Wali-wali Allah. Antara tokoh ulama terkenal yang berasal dari keluarga ini ialah seperti Mufti Ilahi Bakhsh Kandhalawi رحمه الله تعالى  yang meninggal dunia pada tahun 1830 M dan anak saudaranya iaitu Mufti Muzaffar Husain Kandhalawi رحمه الله تعالى yang meninggal dunia pada tahun 1866 M . [1] 

Dari keturunan Mufti Ilahi Bakhsh Kandhalawi رحمه الله تعالى lahirlah legasi keturunan Kandhalawi sampai sekarang .

1. Maulana Abul Hasan Kandhalawi رحمه الله تعالى  (anak kepada Mufti Ilahi Bakhsh Kandhalawi )
2. Maulana Nur Ul Hasan Kandhalawi رحمه الله تعالى (anak kepada Maulana Abul Hasan Kandhalawi )
3. Maulana Hakim Zuhur Ul Hasan Kandhalawi رحمه الله تعالى (anak kepada Maulana Nur Ul Hasan Kandhalawi )
4. Maulana Hakim Radhi Ul Hasan Kandhalawi رحمه الله تعالى (anak kepada Maulana Hakim Zuhur Ul Hasan Kandhalawi )
5. Maulana Muhammad Ikram Ul Hasan Kandhalawi رحمه الله تعالى (anak kepada Maulana Hakim Radhi Ul Hasan Kandhalawi )
6. Maulana Muhammad Inam Ul Hasan Kandhalawi رحمه الله تعالى (anak kepada Maulana Muhammad Ikram Ul Hasan Kandhalawi )
7. Maulana Muhammad Zubair Ul Hasan Kandhalawi رحمه الله تعالى (anak kepada Maulana Muhammad Inam Ul Hasan Kandhalawi )
8. Maulana Muhammad Zuhair Ul Hasan Kandhalawi حفظه الله (anak kepada Maulana Muhammad Zubair Ul Hasan Kandhalawi )

Mufti Ilahi Bakhsh Kandhalawi [2]

Mufti Ilahi Bakhsh Kandhalawi رحمه الله تعالى adalah merupakan murid yang disayangi oleh Shah Abd Aziz Muhaddith Dehlawi رحمه الله تعالى  dan kemudiannya berbi’ah kepada Shah Abd Aziz Muhaddith Dehlawi رحمه الله تعالى . Apabila Sayyid Ahmad As-Syahid رحمه الله تعالى  mengumumkan panggilan Jihad menentang orang Sikh , beliau telah menyahut panggilan jihad tersebut  dengan mengambil bi’ah dengan Sayyid Ahmad As-Syahid رحمه الله تعالى  . Dalam peperangan jihad tersebut, Sayyid Ahmad As-Shahid رحمه الله تعالى  telah meninggal dunia. Mufti Ilahi Bakhash Kandhalawi رحمه الله تعالى meninggal dunia pada tahun 1829 M pada usia 83 tahun. Keterlibatan beliau di dalam peperangan jihad tersebut menunjukan kedudukan dan hubungan istimewa beliau terhadap Sayyid Ahmad As-Syahid رحمه الله تعالى . Beliau telah mengarang lebih dari 40 buah kitab dalam pelbagai disiplin ilmu antaranya Shiyam al-Habib iaitu satu kitab mengandungi peribadi Nabi  صلى الله عليه وسلم seperti kitab Syamail Muhammadiyah yang ditulis di dalam Bahasa Arab.


Lokasi rumah Mufti Ilahi Bakhsh Kandhalawi رحمه الله تعالى yang berada di kanan lelaki yang sedang berjalan itu, di depan rumah tersebut ada susunan kayu . Gambar ini diambil ketika saya menziarahi tempat ini sekitar tahun 2012 di Kandhala. Menurut cerita orang tempatan, guru kepada Mufti Ilahi Bakhsh رحمه الله تعالى iaitu Shah Abd Aziz Muhaddith Dehlawi رحمه الله تعالى juga kerap mengunjungi rumah ini.

Mufti Muzaffar Husain Kandhalawi [2][3]

Mufti Muzaffar Husain Kandhalawi رحمه الله تعالى  mempunyai abang yang bernama Maulana Mahmud Bakhash Kandhalawi رحمه الله تعالى  . Mufti Muzaffar Husain Kandhalawi رحمه الله تعالى  memperolehi ilmu daripada Mufti Ilahi Bakhash Kandhalawi رحمه الله تعالى  dan Shah Muhammad Ishaq Muhaddith Dehlawi رحمه الله تعالى . Selepas kematian Mufti Ilahi Bakhash Kandhalawi رحمه الله تعالى , beliau meneruskan pengajian daripada Shah Muhammad Ishaq Muhaddith Dehlawi رحمه الله تعالى . 

Mufti Muzaffar Husain Kandhalawi رحمه الله تعالى  yang merupakan anak saudaranya adalah merupakan murid kesayangan kepada Shah Abd Ishaq Muhaddith Dehlawi رحمه الله تعالى .yang juga telah dianggap wali Allah di dalam keluarga mereka. Mufti Muzaffar Husain Kandhalawi رحمه الله تعالى  juga telah menjadi khalifah kepada Mufti Ilahi Bakhsh Kandhalawi رحمه الله تعالى . Beliau juga mempunyai baik dengan Maulana Muhammad Mamluk Ali Nanotwi رحمه الله تعالى .

Satu keluarga lagi dari keluarga ini mendiami kawasan Jhinjhana , keluarga mereka ini juga mempunyai hubungan yang rapat dengan para wali-wali Allah seperti Sayyid Ahmad As-Syahid رحمه الله تعالى . Dari keluarga ini , lahirlah tokoh-tokoh seperti Maulana Muhammad Ismail Jhinjhanawi رحمه الله تعالى yang menetap di kampung Nizamuddin di Delhi. Beliau telah berkahwin dengan cucu perempuan kepada Mufti Muzaffar Husain Kandhalawi رحمه الله تعالى  dan telah mengasaskan semula hubungan keluargaan di Kandhala. 

Beliau menunaikan Haji dengan berjalan kaki dalam beberapa kali. Pada akhir kehidupan beliau, atas arahan guru beliau, beliau telah berpindah ke Madinah dan meninggal dunia di sana pada 25 Mei 1866 M. Beliau telah dikebumikan di perkuburan Baqi' berdekatan dengan Maqam Sayyidina Uthman bin Affan رضي الله عنه .

Hubungan kekeluargaan ini menjadi kuat dan utuh di mana beliau dan anak lelakinya telah dikenali sebagai Kandhalawi .Anak lelakinya adalah sebahagian daripada generasi para masyaikh Deoband. Anak lelaki beliau adalah seperti maulana Muhammad Jhinjhanawi رحمه الله تعالى  (anak dengan isteri pertama) yang meninggal pada tahun 1918 M yang menetap di kampung Nizamuddin, Delhi, Maulana Muhammad Yahya Kandhalawi رحمه الله تعالى  (anak dari isteri kedua dari keturunan Mufti Muzaffar Husain Kandhalawi رحمه الله تعالى ) yang meninggal dunia pada tahun 1916 M yang menetap di Gangoh dan Saharanpur. 

Melalui keturunan Maulana Muhammad Yahya Kandhalawi رحمه الله تعالى  inilah, lahirnya generasi seperti Maulana Muhammad Zakariyya Kandhalawi رحمه الله تعالى , cucu beliau Maulana Muhammad Talha Kandhalawi حفظه الله .Manakala dari Maulana Muhammad Ilyas Kandhalawi رحمه الله تعالى  (juga dari keturunan Mufti Muzaffar Husain Kandhalawi رحمه الله تعالى ) yang juga pengasas kepada Usaha Dakwah / Tabligh telah lahirnya generasi seperti  Maulana Muhammad Yusuf Kandhalawi رحمه الله تعالى , cucu beliau Maulana Muhammad Harun Kandhalawi رحمه الله تعالى dan cicit beliau Maulana Muhammad Saad Kandhalawi  
حفظه الله [4]. Maulana Muhammad Ilyas Kandhalawi رحمه الله تعالى juga telah berkahwin dengan anak perempuan di Maulana Muhammad Rauf Ul Hasan Kandhalawi رحمه الله تعالى . 

Madrasah Mazahirul Uloom Saharanpur, institusi pengajian terkenal di benua Hindustan. Maulana Muhammad Ilyas Kandhalawi رحمه الله تعالى pernah mengajar di sini . Maulana Muhammad Yusuf Kandhalawi رحمه الله تعالى pernah menuntut di sini. Maulana Muhammad Harun Kandhalawi رحمه الله تعالى pernah menuntut di sini. Legasi keluarga ini diteruskan lagi dengan kehadiran anak lelaki kepada Maulana Muhammad Saad Kandhalawi حفظه الله. iaitu Maulana Muhammad Yusuf Kandhalawi حفظه الله. yang menjadi penuntut ilmu di sini.[4]

Maulana Muhammad Yahya Kandhalawi رحمه الله تعالى pernah mengajar di institusi pengajian ini manakala Maulana Muhammad Zakariyya Kandhalawi رحمه الله تعالى  menjadi Syeikhul Hadith di Mazahirul Uloom di Saharanpur manakala Maulana Muhammad Yusuf Kandhalawi رحمه الله تعالى  menjadi amir kedua Usaha Dakwah / Tabligh menggantikan ayah beliau iaitu Maulana Muhammad Ilyas Kandhalawi رحمه الله تعالى  yang meninggal dunia pada tahun 1943 M . Maulana Muhammad Yusuf Kandhalawi رحمه الله تعالى  kekal menjadi amir Usaha Dakwah / Tabligh sehinggalah kematian beliau tahun 1965 M . [1]

Ummi Bi [2]

Beliau adalah anak perempuan kepada Mufti Muzaffar Husain Kandhalawi رحمه الله تعالى . Anak perempuannya yang bernama Safiyyah رحمها الله تعالى telah berkahwin dengan Maulana Muhammad Ismail رحمه الله تعالى . Maulana Muhamamd Ismail رحمه الله تعالى  adalah bapa kepada Maulana Muhammad Ilyas Kandhalawi رحمه الله تعالى . dan datuk kepada Maulana Muhammad Yusuf Kandhalawi. Maulana Muhammad Saad Kandhalawi حفظه الله adalah daripada keturunan mereka ini.

Ummi Bi mengikut jejak langkah bapanya iaitu Mufti Muzaffar Husain Kandhalawi رحمه الله تعالى  dalam perwatakan dan ketakwaan. Beliau selalu menghabiskan masa dengan amalan-amalan agama.  

Bi Safiyyah [2]

Beliau ialah ibu kepada Maulana Muhammad Ilyas Kandhalawi رحمه الله تعالى. Beliau seorang hafizah. Beliau menghafal al-quran ketika menunggu kelahiran Maulana Muhammad Yahya Kandhalawi رحمه الله تعالى (ayah kepada Maulana Muhammad Zakariyya Kandhalawi رحمه الله تعالى) dan merupakan bapa saudara kepada Maulana Muhamamd Yusuf Kandhalawi رحمه الله تعالى. Beliau mengikuti jejak langkah ibunya menjadi seorang ibu yang penuh ketakwaan , kezuhudan dan sangat mencintai kehidupan akhirat.

Walaupun beliau sibuk dengan tugasan sebagai seorang isteri dan ibu, beliau selalu menghabiskan masa dengan membaca al-quran . Di dalam bulan ramadhan, beliau mengkhatamkan al-quran setiap hari . Dilaporkan juga bahawa beliau pernah mengkhatamkan al-quran 40 kali di dalam bulan ramadhan.

Juga bacaan tambahan 
http://wirapendang.blogspot.com/2014/02/wanita-wanita-di-kandhala.html

Rujukan :

[1]. Sawanih Hazrat Maulana Muhammad Zakariyya Kandhalawi ,oleh Sayyid Abu Hasan Ali An-Nadwi , m/s 28.
[2]. Halat Mashaikh Kandhala oleh Maulana Ihtisham Ul Hasan Kandhalawi , m/s 84-86
[3]. Sawanih ‘Ulama’-e-Deoband (Deoband: Nawaz publications) Jilid. 1, m/s. 238
[4]. Hasil kajian dan penyelidikan sahaja. Saya berbual sendiri dengan anak lelaki kepada Maulana Muhammad Saad Kandhalawi iaitu Maulana Muhammad Yusuf Kandhalawi.

Bayan Jemaah Australia - Syeikh Mahmud

Bayan Jemaah Australia 
 http://azharjaafar313.blogspot.com/2008/01/bayan-jemaah-australia.html
 *Nota diambil secara short-note semasa bayan. Sila beritahu jika ada kesilapan.

Tempat : Masjid Sri Petaling
Tarikh : 4 Muharam 1429 selepas solat Maghrib

Ringkasan bayan;
(selepas memuji Allah dan berselawat kepada Nabi SAW dan membaca 2 potong ayat al Quran)

1. Allah SWT telah pilih kita untuk lahir sebagai orang Islam. Sebelum kita lahir ke dunia, kita tak pernah diberi pilihan untuk jadi muslim atau kafir. Semata-mata dengan sifat rahim Allah telah jadikan kita seorang muslim. Jadi kita kena syukur atas nikmat ini.

2. Allah telah hantar kita sebagai umat Muhammad SAW dengan satu maksud yang sangat besar iaitu sebagaimana maksud semua Nabi telah dihantar.

3. Allah telah jadikan manusia mempunyai jasad dan roh. Perkara paling berharga bagi manusia (supaya jasad dan roh ini dapat dimanfaatkan) adalah masa.. Seorang yang kematian isteri, boleh cari isteri yang lain. Seorang yang kematian anak, boleh dapat anak yang lain. Seorang yang rumahnya terbakar, boleh cari rumah yang lain. Seorang yang perniagaannya bankrap, boleh bina perniagaan yng lain. Tetapi seorang yang telah berlalu masanya, masa itu tak dapat diganti semula. Masa yang berlalu akan terus pergi buat selama-lamanya.

4. Allah begitu kasih kepada orang-orang beriman sehingga menjadikan sekecil-kecil perkara sebagai sebab penghapus dosa. Sehingga tercucuk duri pun Allah akan hapuskan dosa dari buku catatan. Diceritakan kisah seoarng raja kafir yang zalim ketika hendak mati berhajat untuk makan sejenis makanan yang sukar didapati. Allah telah perintah malaikat untuk dapatkan makanan itu untuk raja tersebut. Selepas makan, raja itu telah mati. Dalam kisah yang lain pula seorang alim yang warak ketika hendak mati telah meminta sedikit air. Apabila orang datang membawa air, Allah telah perintah kepada malaikat untuk tepis cawan sehingga air tertumpah dan orang warak itu mati tanpa dapat minum air. Kedua-dua malaikat telah datang mengadap Allah dan mengadukan hal tersebut. Allah berfirman kepada kedua malaikat tersebut bahawa ketika hidup, raja yang zalim tersebut dia telah buat satu kebaikan dan Allah hendak mambalas kebaikan tersebut di dunia dan azab yang kekal menantinya di akhirat kerana kekafirannya. Manakala orang warak tersebut telah berbuat satu dosa ketika hidup dan Allah hendak menghapuskan dosa tersebut ketika di dunia dan memberikan keselamatan kepadanya di akhirat.

5. Di akhirat nanti, orang yang dalam hatinya ada iman walau sebesar zarah akan dikeluarkan juga akhirnya dari neraka. Manakala orang kafir akan kekal di dalamnya.

6. Dakwah dan iman adalah dua perkara yang berkaitan. Adanya dakwah maka adalah iman. Jika dakwah tiada, maka iman akan keluar dari hati-hati manusia. Nabi Nuh as telah buat usaha dakwah selama 950 tahun siang dan malam. Kemudia baginda telah doa supaya jangan ditinggalkan di atas dunia ini walaupun satu orang kafir. Maka Allah telah hantar banjir yang besar dan menenggelamkan semua orang kafir. Yang terselamat hanyalah nabi Nuh as dan orang-orang yang beriman. Selepas kewafatan nabi Nuh as, dakwah telah terhenti. Dari keturunan orang yang beriman tadi akhirnya telah kembali kufur kepada Allah.

7. Pada kurun ke 18, orang British telah menakluki Australia dan mendapati ada 3 buah gurun yang besar di sana. Untuk menyelesaikan masalah pengangkutan mereka telah membawa 120 ekor unta untuk digunakan mengangkut barang-barang di padang pasir. Oleh kerana mereka tidak tahu mengendalikan unta maka mereka telah membawa ramai orang-orang Islam dari benua India yang kebanyakannya berketurunan afghan. Di kalangan pekerja-pekerja ini terdapat sejumlah bilangan dari golongan ulama. Ulama-ulama ini telah membina 60 masjid dan 3 daripadanya yang berusia lebih 100 tahun masih bertahan sehingga kini. Malangnya bila usaha dakwah ditinggalkan, keturunan dari mereka ini tidak kenal Islam walaupun nama-nama mereka seperti nama-nama Islam.

8. Pada suatu masa jemaah yang bergerak telah dibawa untuk jumpa 3 wanita tua dari keturunan pekerja-pekerja tersebut, yang masing-masing berumur lebih 85 tahun. Ternyata mereka tak tahu apa-apa mengenai amalan Islam kecuali kalimah Laailaha illallah, Muhammadur rasulullah. Bila mereka nampak jemaah memegang tasbih ditangan, mereka mengatakan bapa-bapa mereka dahulu memegang tasbih seperti kamu. Jemaah telah menghadiahkan kepada mereka tasbih tersebut dan mereka rasa sungguh gembira.

9. Laporan satu jemaah lagi yang buat usaha di Thursday Island. Di sana, 90% penduduknya adalah dari keturunan Islam. Teatapi amalan Islam telah lenyap dari diri mereka. Jemaah telah dibawa berjumpa seorang lagi wanita tua berusia lebih 80 tahun. Bila wanita tua ini terlihat saja kepada jemaah (yang dalam keadaan berjanggut, berjubah, berserban), maka dia telah menjerit dengan mangatakan, ‘Muslim has come, muslim has come.’ Dia telah keluarkan satu beg dari bawah katil dan tunjuk kepada jemaah peninggalan arwah bapanya berupa sejadah dan beberapa kitab selawat. Perempuan tua itu bercerita semasa umurnya 10 tahun, bapanya telah meninggal dunia. Sebelum itu dia sempat berwasiat, ‘You don’t be worry. Muslim will come and take of you because muslim are always taking care of each other.’ Perempuan tua itu menambah, ‘And I have been waiting for you (muslim) for 70 years.’
(*Pembayan telah sebak dan menangis. Juga, kami yang dengar bayan).

10. Pembayan memberi laporan bahawa beliau telah berpindah ke Australia dari Tanah Arab pada tahun 1968. Walaupun ada 80 ribu orang Islam di Melbourne tetapi hanya ada 1 masjid sahaja. Itupun dibuka 2 kali setahun untuk solat hari raya. Solat Jumaat hanya dibuat oleh 3-4 orang disebuah surau yang lain. Beliu ada mendengar laporan bahawa jemaah pertama dihantar ke Australia adalah pada tahun 1962. Jemaah ini hanya mampu menangis dan berdoa apabila melihat keadaan agama pada umat.

11. Jemaah seterusnya dihantar pada tahun 1973. Jemaah ni balik dan beri laporan kepada Hadraji bahawa orang Islam di Australia sudah tiada harapan. Hadraji tak berputus asa dan menghantar jemaah lagi pada tahun 1974 & 1975. Pada tahun 1975 ini, 3 orang tempatan (termasuk abang pembayan) telah sedia untuk menghidupkan amalan ziarah pintu ke pintu untuk bertemu dengan orang-orang Islam. Beberapa lama amalan ini berterusan, mereka telah bermesyuarat dan memutuskan untuk meminta kunci masjid. Kunci masjid telah diberi kepada mereka dengan senang hati dan semenjak itu masjid tersebut tidak pernah ditutup lagi sehingga ke hari ini.

12. Amal-amal masjid telah dihidupkan. Jemaah-jemaah telah dikeluarkan dan usaha telah berkembang. Alhamdulillah sekarang telah ada lebih 80 masjid dan surau di Melbourne. Madrasah-madrasah telah wujud. Anak-ank yang dulunya belajar di madrasah sekarang telah mengajar pula. Pembayan berkata dengan matanya sendiri dia dapat melihat apabila dakwah ditinggalkan, dari keturunan ulama akan lahir orang-orang kufar. Apabila dakwah dijalankan, dari keturunan kufar, lahirnya ulama.

13. Kerja ini bukanlah kerja main-main. Bukan kerja yang dibuat kalau suka, dan ditinggal kalau malas. Ini adalah kerja tanggungjawab kita sebagai umat Nabi SAW walaupun kita bukan Nabi. Ini adalah perintah Allah kepada kita.

14. Bila kita buat kerja ini, Allah pasti akan beri hidayat kepada manusia. Seluruh manusia sekarang sedang menanti-nanti kedatangan kita sebagai orang Islam kepada mereka (seperti kisah orang tua tadi).

15. Tashkil…

# Semasa tashkil pembayan menambah, jika seorang bapa menyuruh anaknya yang kecil terjun dari sebuah tempat tinggi dan dia akan menyambutnya; maka jika anaknya terjun, bapanya akan segera menyambut dan memeluk anaknya dengan kasih sayang dan tak akan biarkan anaknya jatuh ke bawah. Allah lebih-lebih lagi kasih kepada hambanya dan suruh kita terjun dalam usaha dakwah. Sekali-kali Allah tak akan biarkan kita jatuh dan mendapat kesusahan. Pasti Allah akan menyambut dan memeluk kita dengan rahmatnya.

Bayan Masturat

Di awal bayan, seorang syech  mengatakan bahwa sudah sepatutnya kita amat bersyukur dengan nikmat yang Allah SWT sudah berikan pada kita saat ini yaitu nikmat hidayah. Karena dengan hidayah ini, kita bisa mengenal Allah SWT sebagai Rabb kita, sebagai Tuhan kita. Tanpa hidayah, mungkin kita akan menjadikan batu sebagai Rabb kita, pohon sebagai Rabb kita, atau kita menjadikan benda-benda disekitar kita sebagai maksud hidup kita.
semoga Allah mengekalkan hidayah dalam diri kita….
 Bersyukur kepada Allah karena Allah SWT telah mengisi hati kita dengan kalimat yang lebih berat daripada bumi dan langit, yaitu kalimat ” Laa ilaaha illa Allah “
 Maksud Allah SWT mengisi hati kita dengan kalimat ” Laa ilaaha illa Allah” yaitu Allah SWT ingin agar kita menafikkan seluruh keyakinan-keyakinan kita kepada makhluk, benda atau asbab-asbab yang lain dari dalam hati kita dan yakin hanya kepada Allah SWT..
 Allah SWT tak ingin disandingkan dengan kebendaan di hati kita. Coba bayangkan, adakah seorang Raja yang mau duduk di kursi kerajaannya dengan benda lain? Allah SWT akan murka jika Dia disandingkan dengan makhluk atau kebendaan di dalam hati kita
 Allah SWT sangat menginginkan agar dalam hati kita tidak ada keyakinan bahwa makanan itu bisa menghilangkan lapar atau air dapat menghilangkan kedahagaan, melainkan kita yakin bahwa hanya Allah SWT lah yang bisa menghilangkan rasa lapar, hanya Allah SWT yang bisa menghilangkan dahaga kita, hanya Allah yang bisa menyembuhkan dan hanya Allah yang bisa memberikan kebahagiaan
 Allah SWT telah menghantar para anbiya ‘alaihissalam termasuk Rasulullah SAW ke bumi untuk usaha mengajak manusia yakin kepada Allah SWT, memasukkan kebesaran Allah SWT ke setiap hati-hati kita..
Kemudian syech mengisahkan tentang kisah Nabi Musa a.s ketika sedang mendapatkan tarbiyah dari Allah SWT, tarbiyah ketika Allah SWT mengajarkan tentang kebesaran-Nya untuk hati nabi Musa a.s
Ketika itu, Allah SWT bertanya, ” apa itu yang ada di tanganmu, Wahai Musa? “, lalu dengan ke-takjub-an nya nabi Musa a.s pada tongkatnya, nabi Musa a.s pun menjawab, ” ini adalah tongkatku “
Ucapan ” ku ” dalam kata ” tongkatku ” membuat Allah SWT tidak suka. Terlebih lagi ketika nabi Musa a.s membangga-banggakan betapa banyak fungsi yang dia dapatkan dari tongkatnya itu. Mulai dari menjadi tempat tumpuan badan, memukul dedaunan di pohon agar menjadi makanan kambing-kambingnya, dan yang lainnya. Sehingga akhirnya, Allah SWT meminta nabi Musa a.s melempar tongkat yang ia banggakan itu dan mengubah tongkat itu menjadi ular yang sangat besar.
Allah SWT tak hantar para anbiyaa a.s untuk mengajarkan umatnya menjadi umat yang pandai membuat baju besi, atau pandai membuat perahu, atau kepandaian lainnya. Tujuan Allah SWT hantar para anbiyaa a.s pada umatnya hanya untuk mengajarkan kebesaran Allah SWT, untuk mengajak manusia yakin hanya kepada Allah SWT..
syech bilang, kita seharusnya kembali bersyukur karena hidup dengan keadaan sudah beragama. Dikisahkan tentang salah satu sahabat, yaitu Umar bin khattab r.a yang ketika ia menoleh ke kanan ia tertawa dan ketika ia menoleh ke kiri ia pun menangis..
Sahabat yang lain yang melihatnya jadi bertanya-tanya, ” mengapa engkau begitu? “
Umar r.a menjawab,
Dulu, ketika aku belum beragama (Islam).. aku pernah bepergian, sebelum berangkat aku membuat patung “Tuhan” ku dari makanan. Namun di tengah perjalanan, aku lapar.. tak kutemukan ada makanan lain, kecuali patung ” Tuhan” ku itu, lalu.. kumakanlah “Tuhan” ku itu..
itu sebabnya tadi aku tertawa karena mengingat kejadian ini,
Dalam keadaan yang sama, ketika aku belum beragama.. istriku pernah melahirkan seorang anak. Begitu takutnya ia padaku karena ia melahirkan anak perempuan, sehingga ia memperlakukan anakku itu seperti laki-laki. Betapa senangnya hatiku ketika aku mengetahui bahwa aku memiliki anak laki-laki. karena senangnya, aku pernah membawa anakku pergi jalan-jalan,
Ditengah perjalanan, anakku yang berpenampilan seperti anak laki-laki itu, berkata padaku bahwa ia ingin buang air kecil. Disitulah aku mengetahui bahwa anakku sebenarnya adalah perempuan. Tanpa pikir panjang, aku langsung menggali sebuah tanah cukup dalam. Begitu susahnya aku menggali tanah hingga baju dan wajahku penuh dengan debu bercampur tanah. Anakku yang melihat diriku sedang menggali tanah, datang menghampiriku untuk membersihkan keringat dan kotoran-kotoran yang ada di wajahku sampai janggutku juga ia bersihkan…
Tanpa mengetahui apa maksud Ayahnya menggali tanah, Anakku tak bertanya untuk apa aku menggali tanah.. ia hanya sibuk membersihkan wajahku. Tapi.. kebaikan yang ia lakukan padaku tak membuatku mengurung niat untuk menguburnya hidup-hidup..
Aku pun tetap memasukkannya ke dalam lubang itu dan meninggalkannya dalam keadaan ia sedang menjerit-jerit memanggilku…
Itulah sebab mengapa tadi aku menangis…….
Kemudian, syech juga mengisahkan tentang pengorbanan yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW..
Dulu.. sebelum Rasulullah SAW mulai berdakwah, beliau SAW memiliki banyak julukan yang baik-baik. Rasulullah SAW terkenal sebagai pemuda yang dapat dipercaya, jujur, amanah dan sifat-sifat baik lainnya yang memang ada dalam diri Rasulullah SAW. Namun ketika Rasulullah SAW mulai mengerjakan usaha atas agama, panggilan-panggilan itu tak ada lagi… panggilan-panggilan itu bahkan berubah menjadi cacian dan hinaan.. (di kata tukang sihir, majnun dukun banyak sekali julukan yang buruk )
Jika Rasulullah SAW pulang ke rumahnya sehabis mendakwahi ummatnya, tak jarang pakaian yang beliau SAW kenakan itu menjadi penuh debu bahkan terkadang disertai adanya kotoran-kotoran yang dilempari orang2, atau darah yang mengucur akibat dilempari batu.
Pernah suatu ketika, Rasulullah SAW pulang larut malam karena seharian berusaha untuk berdakwah pada ummatnya. Diketuk pintu rumahnya sekali-dua kali tak ada sahutan, lalu dengan membentangkan kain surbannya, Rasulullah SAW pun tidur di luar rumahnya. Ketika pagi menjelang, terkejutlah istrinya, Khadijah r.ha melihat sang suami tertidur diluar. Lantas, Rasulullah SAW pun langsung bangun dan meminta maaf kepada istrinya,
” Maafkan aku. Aku tak mau mengganggu tidur pulasmu, jadi aku tidur disini semalam “
 Subhanallah………………
 syech pun juga mengisahkan tentang pengorbanannya Khadijah r.ha,
Pada suatu hari, Rasulullah SAW pulang ke rumah dan melihat istrinya, Khadijah r.ha sedang sibuk menyusui anaknya, Fathimah r.ha. Betapa terkejutnya Rasulullah SAW, ketika mendapati bukan air susu yang keluar dari istrinya melainkan darah…
 Setelah menenangkan dan menidurkan anaknya, Khadijah r.ha pun mendatangi suami tercinta. Rasulullah SAW meletakkan kepalanya dalam pangkuan istrinya seraya berkata,
 ” Wahai istriku, tidakkah engkau merasa menyesal karena memiliki suami sepertiku? dulu sebelum engkau kunikahi, kau adalah janda terkaya disini, kekayaanmu melimpah ruah, namamu terpandang.. tetapi kini, bahkan untuk menyusui anakmu saja kau harus mengeluarkan darah karena tidak ada apa2 lagi yang kau miliki saat ini… “
 Dengan lembutnya, Khadijah r.ha menjawab,
” Wahai Rasulullah, jika aku nanti mati dan tidak adalagi harta kekayaan sepeninggalku sedangkan engkau ingin pergi berdakwah menyebrangi lautan.. maka galilah kuburanku.. gunakanlah tulang-tulangku untuk menjadi perahumu… “
syech lalu berkata,
Sadarkah kita bahwa saat ini kita berdakwah dengan penuh kemudahan asbab perjuangan-perjuangan para anbiyaa, para sahabat dan sahabiyah.. perjuangan Rasulullah SAW? jika dengan kemudahan-kemudahan ini tetap membuat kita tak mau melanjutkan perjuangan mereka.. apa yang harus kita katakan pada mereka di akhirat nanti?
Apa yang akan kau katakan kepada para janda-janda yang ditinggal mati oleh suaminya yang syahid karena dakwah di jalan Allah ?
Apa yang akan kau katakan kepada anak-anak yang yatim piatu karena kedua orangtuanya syahid di jalan Allah ?
Apa yang akan kau katakan kepada Rasulullah SAW yang sudah mengorbankan segala-galanya untukmu?
Apa yang akan kau katakan kepada Allah SWT ??
Seandainya usaha atas agama ini terus dilakukan maka Allah SWT akan memberikan keberkahan-keberkahan pada kita. Dari keberkahan semasa hidup hingga keberkahan saat kita sudah mati…
Maka sebaiknya kita azzam dalam diri kita, untuk mengorbankan harta, waktu dan diri kita untuk agama Allah… insya Allah
Subhanallah wa bihamdihi, Subhanakallahumma wa bihamdika Asyhadu Allaailaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaih

Bayan Masturat

Bayan Masturot: Kamu Tidak Tahu Akhir Hayatmu, Tetaplah Berdakwah Wahai Masturot
Setiap org seharusnya takut, bimbang dan harap pada Allah Taala akan keadaan iman dia.
Bismillah.
Kalaulah satu org yg bukan beriman dilahirkan dlm keadaan kekufuran, hidup dlm kekufuran, hidup dlm suasana tanpa agama tanpa iman, mati tanpa iman adalah perkara biasa. dan Allah Maha bermurah hati, Allah matikan sesetengah org yg hidupnya dlm kekufuran tetapi mati dgn beriman. Tetapi org yg dilahirkan dgn iman, yg hidup dgn iman, yg dipanggil sbg org islam, yg dipanggil sbg org yg beriman spt kita ni semua, kita seharusnya takut, kerana dikalangan org yg hidupnya beriman pun ada yg mati tanpa iman. Satu org yg mati dgn iman Allah janjikan syurga yg luasnya 10x ganda dunia. Utk itulah usaha atas iman sngt penting. Untuk org yg sudah ada iman kita kena buat usaha atas iman, dakwah atas iman.
Ada 2 jenis dakwah; dakwah islam dan dakwah iman. Dakwah iman adalah keperluan utk setiap org yg beriman, Hukumnya fardhu ain. Sesetengah org beranggapan apabila jemaah menziarahi mereka berckp tentang iman, mendakwahkan iman, mereka akan berkata,
Kenapa dakwah kami, kami sudah islam, pergilah kpd org2 bukan islam.
Saudara yg mulia, sebenarnya perintah dakwah iman ini adalah utk setiap org yg sudah beriman. Allah beritahu dlm quran,
Wahai org2 yg beriman, beriman lah kamu sebagaimana org2 yg telah beriman.
Bagaimana org yg telah beriman iaitu para sahabat radhiallahu taala anhum telah beriman kpd Allah Taala, mereka telah usaha atas iman mereka sehingga drp asalnya sesetengah sahabat ada yg menyembah berhala, namun mereka telah beriman dan usaha atas iman sehingga mereka dipanggil org yg beriman. Pada mulanya Allah seru mereka dgn panggilan Ya Ayyuhan Naas tetapi setelah mereka usaha atas iman mereka, setelah mereka beriman Allah seru mereka dgn panggilan Ya Ayyuhallazina Amanu. Allah telah sebut org2 yg beriman muminin, muminat lelaki2 yg telah beriman, wanita2 yg telah beriman. Beriman dgn apa? beriman dgn perkara yg ghaib, dgn syurga dan neraka, dgn pahala dan dosa, malaikat, semua janji2 Allah iaitu semua perkara2 yg tidak nampak. Sehinggakan para sahabat dan sahabiyah telah capai keimanan, seolah2 bagaimana kita nampak dunia dgn mata kasar kita, mereka nampak akhirat dgn mata hati mereka.
Suatu hari seorang sahabat ditanya oleh Rasulullah saw,
Wahai sahabatku, bagaimana keadaan kamu pagi ini?
Jawab sahabat,
Wahai tuanku, saya pagi2 ini dalam keadaan iman yg sempurna.
Kata Baginda saw,
Setiap pengakuan haruslah ada buktinya, apakah bukti kamu?
Maka sahabat bagitau,
Seolah2 saya dgr goresan2 pena malaikat menulis dalam buku amalan saya, bila kebaikan dibuat ditulis dalam buku amalan sebelah kanan, bila dosa dibuat dicatit dalam buku amalan sebelah kiri saya,
Bagaimana Sahabat boleh mendengar sebegitu rupa? Kerana telinga yg sudah dimasuki iman, mata yg sudah dimasuki iman. Seorang sahabat juga memberitahu,
Seolah2 saya dapat melihat pandangan syurga, penghuni2 syurga sedang berada dlm keadaan bahagia dalam nikmat Allah taala, bersalam salaman dan menziarahi dlm nikmat Allah Taala. dan mata ini seolah2 melihat penghuni2 neraka yg sedang bergaduh antara satu sama lain, mereka berada dalam tempat yg sempit dalam keadaan azab neraka yg sangat pedih.
Saudara yg telah dimuliakan oleh Allah swt, utk usaha atas iman inilah baginda saw dan para sahabat mereka telah bersusah payah, bersungguh2 utk menanggung kesusahan demi agama Allah swt. Agama telah dtg dlm kehidupan mereka. di Mekah mereka telah menanggung kesusahan, seorang sahabiyah, Zinnirah (ra) telah kehilangan pandangan matanya, dia telah buta setelah disiksa oleh kaum mushrikin, kemudian dia telah berdoa pada Allah dan telah dakwah pada kaum mushrikin bahawa:
Allah yg sama dahulu telah beri penglihatan pada mata saya, sebenarnya Allah yang sama telah ambil penglihatan saya dan Allah yang sama jua lah yang akan kembalikan penglihatan mata saya.
Dan dia beritahu pd Abu Jahal,
Bukan engkau, engkau pun tidak mampu buat apa2.
Dan setelah Abu Jahal penat memukulnya, Allah swt telah kasihan pada Zinnirah (ra) maka Allah telah kembalikan penglihatanya dan penglihatannya lebih terang drpd sebelumnya.
Saudara yg telah dimuliakan oleh Allah swt, para sahabat dan sahabiyah telah berkorban dan berkorban utk agama Allah swt, sehingga ada yg disiksa, dicemeti, dipukul, ditombak, ditarik badannya sehingga terbelah dua oleh kuda yg berlari dlm arah yg bertentangan. Sahabiyah2 ada yg kebuluran, sehingga anak2 mereka mati dlm pangkuan mereka, tetapi mereka terus buat usaha atas agama, usaha atas iman. kerana mereka telah faham dgn iman yg betul yang sahih pada Allah, barulah Allah Taala akan beri kejayaan. Kejayaan yg sebenar adalah bila iman yang sahih berada dlm lubuk hati kita. Satu org yg mati dgn iman yg sahih barulah diterima oleh Allah Taala. Jika iman rosak, dan ditolak oleh Allah, maka bau haruman syurga pun diharamkan. Jadi para sahabat dan sahabiyah (ra) telah berusaha dan usaha utk agama sehingga dtg pula perintah utk berhijrah. Kalau di Mekah mereka terpaksa menanggung kesusahan, sekarang mereka pula kena tinggalkan kampung halaman, itupun mereka harungi, mereka tempuh juga dan berhijrah ke Madinah demi agama. Di Madinah mereka terpaksa pula berperang saudara. Ahli keluarga mereka yg belum beriman memerangi mereka, dari Mekah org mushrikin bentuk angkatan tentera sebanyak 1000 org dlm peristiwa badar, dan para sahabat hanya seramai 313 orang. Mereka harungi juga kepayahan dlm peperangan utk agama Allah swt.
Dalam peristiwa Uhud pula mereka telah berperang sehingga org spt hadhrat Hamzah (ra) bapa saudara baginda saw telah disyahidkan. Hamzah (ra) adalah org yg sangat hampir dgn baginda saw, baginda saw sangat menyayanginya. Tetapi utk agama Allah swt ini, dadanya telah terbelah, jantungnya telah dikeluarkan dan cuba dimakan oleh seorang wanita mushrik, namun tidak berjaya. Dapat kita bayangkan bagaimana sedih baginda saw. Baginda saw yg begitu hebat orangnya begitu cekal melihat pakciknya yg begitu disayanginya hari ini telah terkorban terbujur dihadapan matanya. Begitu juga 70org sahabat yg lain, sepupu baginda saw Abdullah bin Jahsh (ra) juga turut terkorban dan ramai sahabat2 yang besar yg lain. Baginda saw beritahu,
Kalaulah sebelum ini satu nyawa dibalas dgn satu nyawa, hari ini utk org spt Hamzah (ra), 70 nyawa akan dibalas,
Maka Allah turunkan wahyu,
Wahai nabiku, sesungguhnya satu nyawa ini hanya layak dibalas dgn satu nyawa, tetapi sekiranya kamu inginkan kebaikan dari Tuhan kamu maka memaafkan adalah lebih baik,
Subhanallah. Inilah pengorbanan perasaan nabi saw dan para sahabat (ra) yang ditanggung demi perintah Rabb mereka. Dan begitu juga ramai wanita2 telah kehilangan suami2 mereka, namun itupun mudah utk mereka, demi agama Allah swt.
Saudara yg dimuliakan oleh Allah swt, apabila Khaleed bin Waleed (ra) hendak dtg ke Madinah utk memeluk agama Islam, dia telah beritahu, Bila Allah hendak bukak hati aku utk dtg pada cahaya petunjuk ini, maka hati ini telah berbelah bagi, ragu2. kerana aku, telah ramai org2 terbunuh, wanita2 kehilangan suami mereka, anak2 kehilangan kasih saying drpd bapa mereka.
Bagaimanapun dia telah cekalkan hati nya, pergi depan kaabah dan jemput ramai org2 quraisy yg ternama. Mereka apabila dgr jemputan dr Khaleed bin Waleed, perwira mereka yg handal memerangi org Islam, mereka pun dtg dan bertanya apakah hajat hendak mengumpulkan kami semua. Maka dia dgn berani nya memberitahu,
Sekarang tiba masanya utk kita beriman dgn agama yg dibawa oleh Muhammad.
Begitu berani nya Khaleed (ra) dan kemudiannya dia telah menuju ke Madinah, namun dalam hatinya masih berat memikirkan yang dia telah mengorbankan ramai org islam.
Pada masa yg sama org2 di madinah telah dibentuk oleh Baginda saw dgn perasaan korban utk agama Allah swt, bukan sahaja mereka telah beriman, suatu masa dahulu mereka telah menanggung kesusahan, penderitaan di Mekah utk iman, maka hari ini mereka telah dapat kemanisan iman, mereka telah dipanggil org yg beriman, wanita2 yg beriman, mereka telah faham apa nikmat iman nilai iman ini, maka keinginan mereka adalah utk semua org datang pada iman. Jadi apabila berita Khaleed dtg ke madinah tersebar, Baginda saw beritahu,
Hari ini Mekah akan mengutuskan permatanya,
Maka org2 madinah menunggu kedatangannya berebut2 utk menjemputnya berjumpa Baginda saw. Bukan itu sahaja, apabila org2 madinah telah mendengar Khaleed bin Waleed hendak memeluk Islam, kanak2 dan wanita telah keluar dr rumah mereka, melihat kedatangan Khaleed bin Waleed. Maka seolah2 anak2 ini beritahu,
Wahai Khaleed, kerana kamu kami telah kehilangan kasih sayang bapa kami tetapi demi iman utk kamu supaya kamu selamat drpd neraka Allah, itu kami gembira,
Seolah2 wanita2 ini memberitahu padanya,
Wahai Khaleed, kerana kamulah rumahtangga kami telah musnah, kami telah dipisahkan drpd kasih sayang suami kami tetapi demi iman utk kamu supaya kamu selamat drpd neraka Allah, maka itu kami terima. kami redha dgn Allah swt.
Jadi saudara yg dimuliakan oleh Allah swt, sahabat2 mereka telah korban mereka telah faham, Allah telah masukkan kemanisan iman dlm hati2 mereka, Allah telah bina keyakinan yg sejati dlm diri mereka, sehingga mereka inginkan mahukan agama ini pada seluruh manusia. Keinginan dan kefahaman mereka sama spt keinginan dan kefahaman Baginda saw, baik lelaki mahupun wanita.
Suatu ketika telah dibentuk suatu jemaah yg terdiri di antaranya Hisham bin Al Asr (ra) bersama saudaranya hadhrat Amr bin Al Asr (ra) dan hadhrat Amr telah dijadikan amir (ketua) utk jemaah tersebut. Mereka telah pergi ke suatu tempat dan di sana musuh telah bunuh saudara dia Hisham (ra) dan mereka telah letakkan jasad tubuh saudaranya ini di tengah2 jalan di genting di antara dua gunung yang dikiri kanannya hanya gaung. Dan semua sahabat2 kena melintasi jalan ini utk menyempurnakan takaza mereka. dan didepan nya adalah amir saab, ketua rombongan para sahabat dan bila amir lihat didepan jalannya terbujur seorang sahabat, saudara lelakinya sendiri, tetapi di depan sana adalah takaza agama, jemaah kena dihantar ke sana, baginda saw telah utus mereka utk sesuatu maksud utk bawa agama ke sana. dan musuh2 ini telah buat perangkap utk mereka. Namun tidak ada sesuatupun yg dpt menghalang mereka, mereka telah jelas akan maksud mereka dihantar oleh nabi saw, maka diberitahu kpd para sahbat kita teruskan perjalanan kita. dan semua unta dan kuda sahabat jalan terus pijak jasad saudara lelakinya. Jadi saudara yg dimuliakan oleh Allah swt, kita boleh bayangkan kaki2 kuda telah pijak jasad tubuh sahabat yg mulia yg telah syahid ini sehingga semua badannya hancur. Namun terus mereka pergi sempurnakan tugas2 mereka dan kemudian kembali. Kemudian hadhrat Amr bin al Asr (ra) telah turun dari kudanya dan pergi pada tempat dimana mayat saudaranya terbaring tadi, dia ambil satu karung beg dia telah kumpulkan bekas2 jasad abangnya tadi, daging dan tulang2 yg telah hancur telah dikumpulkan dgn berlinangan air mata sehinggakan sahabat yg menemaninya boleh melihat dia menangis. Dikatakan angin batu pasir telah menjadi saksi bagaimana sahabat telah menanggung perasaan sebegitu rupa utk usaha agama. Maka sehingga hari ini agama telah tersebar kita semua telah dpt iman dlm kehidupan kita atas asbab pengorbanan dan usaha mereka.
Jadi saudara yg dimuliakan dan dikasihi oleh Allah swt, inilah usaha agama yg sebenar. Kerana pengorbanan para sahabat, kerana pengorbanan isteri2 mereka, pengorbanan anak2 mereka hari ini kita di Malaysia, di asia tenggara dan seluruh dunia agama telah sampai kepada kita. Kerana Allah telah suka, Allah telah gembira dgn pengorbanan mereka. Jadi agama ini sebenarnya adalah melalui pengorbanan. Untuk dapatkan iman utk hasilkan iman dlm diri kita, kita kena menanggung pengorbanan. Untuk dptkan iman utk manusia sejagat pengorbanan kena dibuat. Sebab itulah jemaah2 kena dibentuk kena hantar dan utuskan suami2 dan anak2 kita di jalan Allah swt. supaya Allah akan lihat usaha pengorbanan ini dan Allah akan terima dan sebarkan hidayat ke seluruh alam. Allah akan datangkan manusia kpd agama dari seluruh pelusuk alam. Bila wanita2 telah faham akan keinginan baginda saw, maka mereka telah jadikan keinginan mereka spt keinginan Baginda saw.

Bayan Masturat

Usaha dakwah seperti air hujan. Jika hujan di tempat yang kontang seperti padang pasir pun maka tempat itu akan subur menjadi wadi. Tetapi jika hujan tidak turun walaupun di tempat yang subur dan hijau, maka lambat laun tempat itu akan menjadi kontang dan mati.
Satu jemaah dari Pakistan telah dihantar ke Rusia dan telah bertemu dengan seorang ulama. Ulama itu menceritakan bahawa pada satu masa dulu semasa kominis, 60 ulama di tempatnya telah dibunuh dengan memasukkan mereka ke dalam mesin pemecah batu di lombong batu. Dia telah terselamat kerana sentiasa membawa botol arak sebagai helah. Selepas itu ulama tersebut telah menangis dan menangis dan berkata bahawa ulama2 tersebut telah dibunuh kerana tidak buat kerja seperti yang kamu buat sekarang.
Allah turunkan azab di tempat2 orang Islam untuk rotan umat ini kerana berlaku zalim. Zalim kerana tinggalkan perintah Allah yang utama untuk umat ini iaitu usaha dakwah. Kita kata Amerika & the gang zalim tetapi kitalah yang sebenarnya zalim.
Di akhirat nanti sebahagian dari umat ini akan dihalau sebanyak 3 kali dari telaga Kauthar oleh Nabi sendiri kerana ketika di dunia tidak pernah mengerutkan dahi apabila melihat kerosakan pada agama. Sekali halau mereka akan jauh dari Nabi sejauh mata memandang.
Allah telah beri diri dan harta kepada kita supaya dapat digunakan untuk membina dan memajukan agama. Tetapi bila diri dan harta disalah guna maka akan jadi penyakit dan masalah. Sama seperti penggunaan dadah pada asalnya adalah sebagai ubat tetapi bila disalah guna akan jadi sebab kerosakan. Bila umat ini guna diri dan harta untuk agama maka agama akan maju tetapi bila guna untuk dunia maka dunia akan maju.
Jemaah pertama yang dihantar ke Perancis adalah jemaah dari Bangladesh pada tahun 1983. Pada masa itu tiada satu masjid pun di sana walaupun ada 4 juta orang Arab. Jemaah telah menyewa sebuah bilik dan memulakan usaha di sana. Sekarang telah ada 2000 buah masjid. Markas di St Denim setinggi 3 tingkat akan penuh setiap kali azan dilaungkan.
Elders kata bila usaha Nabi dibuat maka kota London & Paris akan bertukar seperti kota Mekah & Madinah iaitu hidupnya amalan agama. Tetapi bila usaha tak dibuat maka kota Mekah & Madinah akan menjdi seperti kota London & Paris iaitu tempat bershopping.
Di markas London telah boleh azan menggunakan loudspeaker. Gereja2 banyak ditukar kepada masjid. Gereja dibeli dengan harga murah kerana tiada sambutan orang ramai walaupun loceng dibunyikan setiap hari. Bukan puluhan tapi ratusan gereja ditukar sehingga perlimen Britain mengharamkan penjualan gereja kepada mana2 badan. Kiblat gereja adalah ke masjidil Aqsa, jadi bila ditukar kepada masjid maka kedudukan kiblat diubah beberapa darjah sahaja ke kanan iaitu ke arah kaabah.
Sepanyol dulunya adalah negara Islam tetapi bila usaha Nabi ditinggalkan maka masjid2 telah menjadi muzium, gudang, kilang dan sebagainya. Berkat dari usaha jemaah2 yang bergerak maka sekarang masjid Cardoba di Sepanyol yang sekarang telah menjadi muzium dan bar telah dibuka sedikit ruang untuk kegunaan orang Islam menunaikan solat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan Sepanyol ubah masjid Cordoba dari muzium dan bar kepada masjid sebenar maka ini tak akan berjaya. Tetapi dengan usaha Nabi, sedikit demi sedikit Allah buat perubahan.
Ada tempat2 lain yang tiada masjid, bila jemaah dihantar ke sana maka orang Islam di sana mula bartaubat dan bersolat serta mengamalkan agama. Mereka bersolat di jalan2, di taman2 dan di mana sahaja sehingga kerajaan tempatan di situ terpaksa buat masjid untuk orang Islam beribadat. Kalau dulu jemaah2 dihantar untuk desak kerajaan tu buat masjid maka tak akan berjaya.
Bila kaum wanita ada fikir agama maka mereka akan didik anak2 cara hidup agama. Halakah talim dan muzakarah sifat sahabat perlu dibuat di rumah setiap hari selama satu jam supaya dapat tanam jiwa agama kepada anak2. Jika tidak anak2 akan terpengaruh dengan kartun, robot, hantu dan lain-lain. Wanita juga akan jadi penggalak suami dan anak2 untuk beri pengorbanan untuk agama dan keluar di jalan Allah. Seperti isteri2 Nabi dan sahabat yang galakkan suami dan anak2 mereka.
Yakinlah bahawa setiap susah payah kita untuk agama akan pasti diganjari oleh Allah di akhirat dengan ganjaran yang besar. Setiap amal yang dibuat ketika keluar di jalan Allah akan digandakan sekurang2nya 700,000 kali ganda malah lebih lagi.
Untuk belajar usaha ini maka kita kita diminta keluar jemaah masturat 3 hari, 10 atau 15 hari dan 40 hari IPB.

Bayan Masturat

Kalaulah satu org yg bukan beriman dilahirkan dlm keadaan kekufuran, hidup dlm kekufuran, hidup dlm suasana tanpa agama tanpa iman, mati tanpa iman adalah perkara biasa. dan Allah Maha bermurah hati, Allah matikan sesetengah org yg hidupnya dlm kekufuran tetapi mati dgn beriman. Tetapi org yg dilahirkan dgn iman, yg hidup dgn iman, yg dipanggil sbg org islam, yg dipanggil sbg org yg beriman spt kita ni semua, kita seharusnya takut, kerana dikalangan org yg hidupnya beriman pun ada yg mati tanpa iman. Satu org yg mati dgn iman Allah janjikan syurga yg luasnya 10x ganda dunia. Utk itulah usaha atas iman sngt penting. Untuk org yg sudah ada iman kita kena buat usaha atas iman, dakwah atas iman.
Ada 2 jenis dakwah; dakwah islam dan dakwah iman. Dakwah iman adalah keperluan utk setiap org yg beriman, Hukumnya fardhu ain. Sesetengah org beranggapan apabila jemaah menziarahi mereka berckp tentang iman, mendakwahkan iman, mereka akan berkata,
Kenapa dakwah kami, kami sudah islam, pergilah kpd org2 bukan islam.
Saudara yg mulia, sebenarnya perintah dakwah iman ini adalah utk setiap org yg sudah beriman. Allah beritahu dlm quran,
Wahai org2 yg beriman, beriman lah kamu sebagaimana org2 yg telah beriman.
Bagaimana org yg telah beriman iaitu para sahabat radhiallahu taala anhum telah beriman kpd Allah Taala, mereka telah usaha atas iman mereka sehingga drp asalnya sesetengah sahabat ada yg menyembah berhala, namun mereka telah beriman dan usaha atas iman sehingga mereka dipanggil org yg beriman. Pada mulanya Allah seru mereka dgn panggilan Ya Ayyuhan Naas tetapi setelah mereka usaha atas iman mereka, setelah mereka beriman Allah seru mereka dgn panggilan Ya Ayyuhallazina Amanu. Allah telah sebut org2 yg beriman muminin, muminat lelaki2 yg telah beriman, wanita2 yg telah beriman. Beriman dgn apa? beriman dgn perkara yg ghaib, dgn syurga dan neraka, dgn pahala dan dosa, malaikat, semua janji2 Allah iaitu semua perkara2 yg tidak nampak. Sehinggakan para sahabat dan sahabiyah telah capai keimanan, seolah2 bagaimana kita nampak dunia dgn mata kasar kita, mereka nampak akhirat dgn mata hati mereka.
Suatu hari seorang sahabat ditanya oleh Rasulullah saw,
Wahai sahabatku, bagaimana keadaan kamu pagi ini?
Jawab sahabat,
Wahai tuanku, saya pagi2 ini dalam keadaan iman yg sempurna.
Kata Baginda saw,
Setiap pengakuan haruslah ada buktinya, apakah bukti kamu?
Maka sahabat bagitau,
Seolah2 saya dgr goresan2 pena malaikat menulis dalam buku amalan saya, bila kebaikan dibuat ditulis dalam buku amalan sebelah kanan, bila dosa dibuat dicatit dalam buku amalan sebelah kiri saya,
Bagaimana Sahabat boleh mendengar sebegitu rupa? Kerana telinga yg sudah dimasuki iman, mata yg sudah dimasuki iman. Seorang sahabat juga memberitahu,
Seolah2 saya dapat melihat pandangan syurga, penghuni2 syurga sedang berada dlm keadaan bahagia dalam nikmat Allah taala, bersalam salaman dan menziarahi dlm nikmat Allah Taala. dan mata ini seolah2 melihat penghuni2 neraka yg sedang bergaduh antara satu sama lain, mereka berada dalam tempat yg sempit dalam keadaan azab neraka yg sangat pedih.
Saudara yg telah dimuliakan oleh Allah swt, utk usaha atas iman inilah baginda saw dan para sahabat mereka telah bersusah payah, bersungguh2 utk menanggung kesusahan demi agama Allah swt. Agama telah dtg dlm kehidupan mereka. di Mekah mereka telah menanggung kesusahan, seorang sahabiyah, Zinnirah (ra) telah kehilangan pandangan matanya, dia telah buta setelah disiksa oleh kaum mushrikin, kemudian dia telah berdoa pada Allah dan telah dakwah pada kaum mushrikin bahawa:
Allah yg sama dahulu telah beri penglihatan pada mata saya, sebenarnya Allah yang sama telah ambil penglihatan saya dan Allah yang sama jua lah yang akan kembalikan penglihatan mata saya.
Dan dia beritahu pd Abu Jahal,
Bukan engkau, engkau pun tidak mampu buat apa2.
Dan setelah Abu Jahal penat memukulnya, Allah swt telah kasihan pada Zinnirah (ra) maka Allah telah kembalikan penglihatanya dan penglihatannya lebih terang drpd sebelumnya.
Saudara yg telah dimuliakan oleh Allah swt, para sahabat dan sahabiyah telah berkorban dan berkorban utk agama Allah swt, sehingga ada yg disiksa, dicemeti, dipukul, ditombak, ditarik badannya sehingga terbelah dua oleh kuda yg berlari dlm arah yg bertentangan. Sahabiyah2 ada yg kebuluran, sehingga anak2 mereka mati dlm pangkuan mereka, tetapi mereka terus buat usaha atas agama, usaha atas iman. kerana mereka telah faham dgn iman yg betul yang sahih pada Allah, barulah Allah Taala akan beri kejayaan. Kejayaan yg sebenar adalah bila iman yang sahih berada dlm lubuk hati kita. Satu org yg mati dgn iman yg sahih barulah diterima oleh Allah Taala. Jika iman rosak, dan ditolak oleh Allah, maka bau haruman syurga pun diharamkan. Jadi para sahabat dan sahabiyah (ra) telah berusaha dan usaha utk agama sehingga dtg pula perintah utk berhijrah. Kalau di Mekah mereka terpaksa menanggung kesusahan, sekarang mereka pula kena tinggalkan kampung halaman, itupun mereka harungi, mereka tempuh juga dan berhijrah ke Madinah demi agama. Di Madinah mereka terpaksa pula berperang saudara. Ahli keluarga mereka yg belum beriman memerangi mereka, dari Mekah org mushrikin bentuk angkatan tentera sebanyak 1000 org dlm peristiwa badar, dan para sahabat hanya seramai 313 orang. Mereka harungi juga kepayahan dlm peperangan utk agama Allah swt.
Dalam peristiwa Uhud pula mereka telah berperang sehingga org spt hadhrat Hamzah (ra) bapa saudara baginda saw telah disyahidkan. Hamzah (ra) adalah org yg sangat hampir dgn baginda saw, baginda saw sangat menyayanginya. Tetapi utk agama Allah swt ini, dadanya telah terbelah, jantungnya telah dikeluarkan dan cuba dimakan oleh seorang wanita mushrik, namun tidak berjaya. Dapat kita bayangkan bagaimana sedih baginda saw. Baginda saw yg begitu hebat orangnya begitu cekal melihat pakciknya yg begitu disayanginya hari ini telah terkorban terbujur dihadapan matanya. Begitu juga 70org sahabat yg lain, sepupu baginda saw Abdullah bin Jahsh (ra) juga turut terkorban dan ramai sahabat2 yang besar yg lain. Baginda saw beritahu,
Kalaulah sebelum ini satu nyawa dibalas dgn satu nyawa, hari ini utk org spt Hamzah (ra), 70 nyawa akan dibalas,
Maka Allah turunkan wahyu,
Wahai nabiku, sesungguhnya satu nyawa ini hanya layak dibalas dgn satu nyawa, tetapi sekiranya kamu inginkan kebaikan dari Tuhan kamu maka memaafkan adalah lebih baik,
Subhanallah. Inilah pengorbanan perasaan nabi saw dan para sahabat (ra) yang ditanggung demi perintah Rabb mereka. Dan begitu juga ramai wanita2 telah kehilangan suami2 mereka, namun itupun mudah utk mereka, demi agama Allah swt.
Saudara yg dimuliakan oleh Allah swt, apabila Khaleed bin Waleed (ra) hendak dtg ke Madinah utk memeluk agama Islam, dia telah beritahu, Bila Allah hendak bukak hati aku utk dtg pada cahaya petunjuk ini, maka hati ini telah berbelah bagi, ragu2. kerana aku, telah ramai org2 terbunuh, wanita2 kehilangan suami mereka, anak2 kehilangan kasih saying drpd bapa mereka.
Bagaimanapun dia telah cekalkan hati nya, pergi depan kaabah dan jemput ramai org2 quraisy yg ternama. Mereka apabila dgr jemputan dr Khaleed bin Waleed, perwira mereka yg handal memerangi org Islam, mereka pun dtg dan bertanya apakah hajat hendak mengumpulkan kami semua. Maka dia dgn berani nya memberitahu,
Sekarang tiba masanya utk kita beriman dgn agama yg dibawa oleh Muhammad.
Begitu berani nya Khaleed (ra) dan kemudiannya dia telah menuju ke Madinah, namun dalam hatinya masih berat memikirkan yang dia telah mengorbankan ramai org islam.
Pada masa yg sama org2 di madinah telah dibentuk oleh Baginda saw dgn perasaan korban utk agama Allah swt, bukan sahaja mereka telah beriman, suatu masa dahulu mereka telah menanggung kesusahan, penderitaan di Mekah utk iman, maka hari ini mereka telah dapat kemanisan iman, mereka telah dipanggil org yg beriman, wanita2 yg beriman, mereka telah faham apa nikmat iman nilai iman ini, maka keinginan mereka adalah utk semua org datang pada iman. Jadi apabila berita Khaleed dtg ke madinah tersebar, Baginda saw beritahu,
Hari ini Mekah akan mengutuskan permatanya,
Maka org2 madinah menunggu kedatangannya berebut2 utk menjemputnya berjumpa Baginda saw. Bukan itu sahaja, apabila org2 madinah telah mendengar Khaleed bin Waleed hendak memeluk Islam, kanak2 dan wanita telah keluar dr rumah mereka, melihat kedatangan Khaleed bin Waleed. Maka seolah2 anak2 ini beritahu,
Wahai Khaleed, kerana kamu kami telah kehilangan kasih sayang bapa kami tetapi demi iman utk kamu supaya kamu selamat drpd neraka Allah, itu kami gembira,
Seolah2 wanita2 ini memberitahu padanya,
Wahai Khaleed, kerana kamulah rumahtangga kami telah musnah, kami telah dipisahkan drpd kasih sayang suami kami tetapi demi iman utk kamu supaya kamu selamat drpd neraka Allah, maka itu kami terima. kami redha dgn Allah swt.
Jadi saudara yg dimuliakan oleh Allah swt, sahabat2 mereka telah korban mereka telah faham, Allah telah masukkan kemanisan iman dlm hati2 mereka, Allah telah bina keyakinan yg sejati dlm diri mereka, sehingga mereka inginkan mahukan agama ini pada seluruh manusia. Keinginan dan kefahaman mereka sama spt keinginan dan kefahaman Baginda saw, baik lelaki mahupun wanita.
Suatu ketika telah dibentuk suatu jemaah yg terdiri di antaranya Hisham bin Al Asr (ra) bersama saudaranya hadhrat Amr bin Al Asr (ra) dan hadhrat Amr telah dijadikan amir (ketua) utk jemaah tersebut. Mereka telah pergi ke suatu tempat dan di sana musuh telah bunuh saudara dia Hisham (ra) dan mereka telah letakkan jasad tubuh saudaranya ini di tengah2 jalan di genting di antara dua gunung yang dikiri kanannya hanya gaung. Dan semua sahabat2 kena melintasi jalan ini utk menyempurnakan takaza mereka. dan didepan nya adalah amir saab, ketua rombongan para sahabat dan bila amir lihat didepan jalannya terbujur seorang sahabat, saudara lelakinya sendiri, tetapi di depan sana adalah takaza agama, jemaah kena dihantar ke sana, baginda saw telah utus mereka utk sesuatu maksud utk bawa agama ke sana. dan musuh2 ini telah buat perangkap utk mereka. Namun tidak ada sesuatupun yg dpt menghalang mereka, mereka telah jelas akan maksud mereka dihantar oleh nabi saw, maka diberitahu kpd para sahbat kita teruskan perjalanan kita. dan semua unta dan kuda sahabat jalan terus pijak jasad saudara lelakinya. Jadi saudara yg dimuliakan oleh Allah swt, kita boleh bayangkan kaki2 kuda telah pijak jasad tubuh sahabat yg mulia yg telah syahid ini sehingga semua badannya hancur. Namun terus mereka pergi sempurnakan tugas2 mereka dan kemudian kembali. Kemudian hadhrat Amr bin al Asr (ra) telah turun dari kudanya dan pergi pada tempat dimana mayat saudaranya terbaring tadi, dia ambil satu karung beg dia telah kumpulkan bekas2 jasad abangnya tadi, daging dan tulang2 yg telah hancur telah dikumpulkan dgn berlinangan air mata sehinggakan sahabat yg menemaninya boleh melihat dia menangis. Dikatakan angin batu pasir telah menjadi saksi bagaimana sahabat telah menanggung perasaan sebegitu rupa utk usaha agama. Maka sehingga hari ini agama telah tersebar kita semua telah dpt iman dlm kehidupan kita atas asbab pengorbanan dan usaha mereka.
Jadi saudara yg dimuliakan dan dikasihi oleh Allah swt, inilah usaha agama yg sebenar. Kerana pengorbanan para sahabat, kerana pengorbanan isteri2 mereka, pengorbanan anak2 mereka hari ini kita di Malaysia, di asia tenggara dan seluruh dunia agama telah sampai kepada kita. Kerana Allah telah suka, Allah telah gembira dgn pengorbanan mereka. Jadi agama ini sebenarnya adalah melalui pengorbanan. Untuk dapatkan iman utk hasilkan iman dlm diri kita, kita kena menanggung pengorbanan. Untuk dptkan iman utk manusia sejagat pengorbanan kena dibuat. Sebab itulah jemaah2 kena dibentuk kena hantar dan utuskan suami2 dan anak2 kita di jalan Allah swt. supaya Allah akan lihat usaha pengorbanan ini dan Allah akan terima dan sebarkan hidayat ke seluruh alam. Allah akan datangkan manusia kpd agama dari seluruh pelusuk alam. Bila wanita2 telah faham akan keinginan baginda saw, maka mereka telah jadikan keinginan mereka spt keinginan Baginda saw.