Sunday, January 25, 2026

Amir bin Fuhairah

 Tokoh-tokoh yang terlibat di dalam Hijrah baginda Nabi ﷺ

Di bawah ini adalah nama beberapa individu yang terlibat secara langsung dalam melancarkan proses perjalanan hijrah:
1) Saidina Ali – seorang anak muda yang berusia 32 tahun lebih muda dari Rasulullah dan merupakan sepupu Baginda, anak kepada Abu Talib bin Abdul Mutalib. Tugas yang dibebankan kepadanya adalah menggantikan tempat tidur Rasulullah pada malam hijrah disaat rumah tersebut dikepung oleh 11 pemuka Quraisy termasuk Abu Jahal dan Abu Lahab.
2) Saidina Abu Bakar – beliau lahir dua tahun setelah kelahiran Rasulullah SAW. Beliau terlibat dalam hijrah ke Habsyah (Ethopia) sebelum hijrah ke Madinah. Dalam hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW memilih beliau sebagai teman dalam perjalanan.
3.Abdullah bin Abu Bakar – beliau adalah anak Saidina Abu Bakar yang ditugaskan sebagai intel untuk mencari maklumat dan menyampaikan maklumat kepada Rasulullah SAW yang bersembunyi di Gua Thur selama 3 hari sebelum meneruskan perjalanan ke Madinah. Abdullah mendengar apa sahaja perbicaraan penduduk Mekah (tentang mereka) di siang hari dan pada petangnya, menyampaikan info tersebut kepada mereka. Setiap malam (dalam tempoh 3 hari tersebut), Abdullah tidur di gua bersama mereka dan pulang pada waktu Subuh.
4) Asma’ binti Abu Bakar – beliau juga adalah anak kepada Saidina Abu Bakar. Tugasannya adalah menghantar makanan ke Gua Thur setiap hari. Sangat menakjubkan kerana saat itu ia sedang hamil tua, namun mampu mendaki gunung yang tidak mampu didaki oleh semua orang. Asma’ digelar ‘Zatun Nitaqain’ artinya ‘pemilik dua ikat pinggang’ kerana ia memotong kain ikat pinggangnya untuk mengikat mulut kantung makanan tersebut.
5) Amir bin Fuhairah – beliau adalah mantan hamba kepada Abu Bakar. Beliau diberi tugasan supaya membawa kambing-kambing peliharaannya ke padang pasir pada waktu siang bagi menghilangkan jejak kaki Abdullah dan Asma’ dan pada waktu petang membawa kambing ke gua Thur untuk diperah susunya.
6) Abdullah bin Uraiqith – beliau adalah seorang Musyrik yang mempunyai keahlian dalam menunjuk jalan di padang pasir. Sekitar 4 bulan sebelum berangkat berhijrah, Rasulullah dan Abu Bakar menyerahkan dua ekor unta kepadanya untuk dipelihara untuk kegunaan tunggangan berhijrah nanti. Sampai masanya beliau bertemu Rasulullah dan Abu Bakar dengan membawa unta tersebut untuk berhijrah.
Ertinya, kita dibenarkan meminta bantuan pihak non-Muslim dalam beberapa hal yang mereka ada kepakaran, syaratnya mereka itu boleh dipercayai, tidak akan khianat atau membocor rahsia.
Maka, setiap umat Islam khasnya mereka yang mengintima’kan diri bersama perjuangan Islam berkewajipan memberikan sumbangan, pengorbanan (tenaga, masa dll) serta kepakaran yang kita ada untuk membantu urusan agung ini.
Gua yang dimaksud dalam peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW adalah Gua Tsur (Thawr). Gua ini terletak di Jabal Tsur, sekitar 4 kilometer di selatan Masjidil Haram, Mekah. Baginda Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya, Abu Bakar RA, bersembunyi di gua ini selama tiga hari untuk menghindari kejaran kaum Quraisy setelah memutuskan untuk berhijrah ke Madinah.
Berikut adalah beberapa poin penting mengenai Gua Tsur:
Tempat persembunyian:
Gua Tsur menjadi tempat persembunyian baginda Nabi Muhammad dan Abu Bakar selama tiga hari ketika mereka dalam perjalanan hijrah ke Madinah.
Mukjizat:
Dalam masa persembunyian mereka di gua, terjadi peristiwa ajaib di mana Allah SWT melindungi mereka dengan sarang laba-laba dan burung merpati yang membuat sarang di pintu gua, sehingga kaum Quraisy yang mencari mereka mengira bahwa gua tersebut tidak mungkin dimasuki.

Adalah Amir bin Fuhayra yang ditugaskan untuk menghapus jejak kaki Rasulullah dan Abu Bakar as-Siddiq. Dulunya dia adalah seorang penggembala. Lalu dibeli Abu Bakar sebagai budak dan disuruh menggembala domba-dombanya. Nantinya, Abu Bakar memerdekakannya dari statusnya sebagai budak. Hingga akhirnya ia menjadi salah satu sahabat Rasulullah.

Seperti dikutip buku Muhammad: Kisah Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, Amir bin Fuhayra diperintahkan Abu Bakar untuk mengikuti perjalanan mereka. Sambil menggembala kambing, Amir bin Fuhayra menghapus jejak kaki Rasulullah, Abu Bakar, serta Abdullah bin Abu Bakar dan hewan tunggangannya dari mulai rumah Abu Bakar hingga Gua Tsur. 

Sesampainya di Gua Tsur, Abu Bakar menyuruh anaknya, Abdullah, untuk kembali ke Makkah, bersama dengan Amir bin Fuhayra. Ia ditugaskan untuk menghimpun informasi tentang apa rencana dan strategi kafir Quraish setelah mengetahui bahwa Rasulullah telah meninggalkan Makkah. 

Selama Abdullah mencari informasi terkait pihak musuh, Amir bin Fuhayra kembali bertugas menggembala domba-domba Abu Bakar bersama dengan teman-temannya yang lain. Keesokan harinya, setelah mendapatkan informasi yang valid Abdullah bersama Amir bin Fuhayra berangkat ke Gua Tsur, tempat dimana Rasulullah dan ayahnya tinggal sementara. Lagi-lagi, Amir bin Fuhayra ditugaskan untuk menutupi jejak Abdullah. 

Kepada Rasulullah dan ayahnya, Abdullah melaporkan bahwa kafir Quraish membuat sayembara. Siapapun yang berhasil menemukan dan membawa Rasulullah kembali ke Makkah, maka ia akan mendapatkan hadiah 100 ekor unta. Berkat Allah, Rasulullah dan Abu Bakar selamat dari kejaran pihak musuh. (A Muchlishon Rochmat)


Aamir bin Fuhairah, Dari Budak Belian Menjadi Hafidz Al-Qur’an

“Demi Allah! Jika Rasul datang kemari di waktu seperti ini pasti ada perkara besar,” ujar Hazrat Abu Bakar  ketika mendengar bahwa Rasulullah SAW sedang dalam perjalanan menuju rumahnya. Tidak biasanya Rasulullah SAW datang mengunjunginya pada waktu itu. 

Tak lama kemudian, seorang lelaki yang mengenakan penutup kepala sampai di depan rumahnya. Ia adalah Rasulullah SAW, dan Hazrat Abu Bakar mempersilahkannya masuk. Rasulullah bersabda, “Jika ada orang lain di rumah ini, mintakan ia keluar dulu.” Hazrat Abu Bakar menjawab, “Ya Rasulullah, di rumah ini hanya ada keluarga Anda, Aisyah, dan ibunya, Ummi Ruman.”

“Saya sudah mendapatkan izin untuk Hijrah,” berkata Rasulullah SAW dengan serius. “Wahai Rasul! Mohon berkenan untuk mengajak saya, saya rela korbankan ayah dan ibuku demi Engkau.” Rasulullah SAW bersabda, “ Ya, Anda juga ikut dengan saya.”

Mendengar kabar tersebut, dengan segera Hazrat Aisyah  dan keluarganya menyiapkan perbekalan dan perlengkapan untuk keperluan hijrah. Rasulullah SAW dan Hazrat Abu Bakar berangkat menaiki unta dan tiba di sebuah Gua di bukit Tsur. Mereka berdua pun memutuskan untuk bersembunyi dan bermalam di dalam gua itu.

Selama tinggal di Gua Tsur, seorang sahabat yang setia selalu datang pada malam hari. Ia adalah Hazrat Aamir bin Fuhairah, seorang budak berkulit hitam yang sebelumnya merupakan hamba sahaya dari saudara tiri Hazrat Aisyah, Thufail bin Abdullah bin Harits. Ia termasuk ke dalam Muslim Awwalin yang bai’at ke dalam Islam sebelum Rasulullah SAW memasuki Darul Arqam. Setelah masuk Islam, ia disiksa dan dianiaya oleh kaum kuffar dengan kejamnya. Kemudian Hazrat Abu Bakar menebus dan membebaskannya.

Hazrat Aamir bin Fuhairah biasa menggembala kambing milik Hazrat Abu Bakar di bukit pada siang hari. Dan setelah melewati waktu Isya, ia membawa kambing-kambing itu ke Gua Tsur dan memerah susu kambing sehingga Rasulullah SAW dan Hazrat Abu Bakar dapat meminum susu segar dan melewati malam. Hal ini berlangsung selama tiga malam.

Hazrat Abdullah, putra Hazrat Abu Bakar juga biasa datang dan bermalam menyertai mereka berdua di Gua Tsur. Dari arah belakang, Hazrat Aamir bin Fuhairah menghapus jejak langkah Hazrat Abdullah sehingga tidak ada yang tahu bahwa Hazrat Abdullah pergi ke bukit tersebut. Ia keluar dari gua pada pagi buta dan pulang seolah-olah melewati malam bersama penduduk Quraisy di Mekkah. 

Hazrat Aamir bin Fuhairah ikut serta bersama Rasulullah SAW dan Hazrat Abu Bakar dalam perjalanan hijrah ke Madinah. Setelah tiga malam di Gua Tsur, seorang penunjuk jalan yang mahir menemui mereka. Ia adalah seorang musyrik yang dibayar untuk menunjukkan jalan ke Madinah. Penunjuk jalan mengajak ketiganya menyusuri jalan di tepi laut.

Hazrat Aamir bin Fuhairah yang dulunya adalah seorang budak, berkat keimanan dan pengkhidmatannya dalam Islam, Allah SWT meninggikan derajatnya menjadi seorang Hafidz Al-Qur’an. Ia menjadi salah seorang dari 70 penghafal Al-Qur’an yang diberikan missi penting untuk bertabligh ke suatu suku Arab. Tugas yang sangat mulia ini mengantarkannya menuju Kesyahidan. 

Hazrat Aamir bin Fuhairah syahid dalam peristiwa Bi’ru Ma’unah. Peristiwa yang sangat memilukan, namun menggembirakan bagi mereka yang syahid saat itu. 70 Qaari Muslim diserang oleh sekumpulan munafik yang dipimpin Amir bin Thufail. Tanpa persenjataan, mereka disyahidkan satu persatu oleh musuh yang jumlahnya sangat banyak dan mengepung mereka dengan senjata. 

Setelah satu persatu disyahidkan, tiba giliran Hazrat Aamir bin Fuhairah. Beramai-ramai orang-orang menangkapnya dan seseorang dengan sangat kuat menancapkan tombak ke dadanya. Ketika tombak itu tertancap, dari lisannya terucap sebuah kalimat yang membuat seorang kafir keheranan, “Demi Tuhannya Ka’bah! Saya telah berhasil.” Peristiwa ini membuat seorang kafir yang menyaksikannya terkesan dan akhirnya masuk Islam.

Hazrat Amru bin Umayyah al-Dhamri, satu-satunya orang Muslim yang ditawan ditanyai oleh pimpinan musuh, Amir bin Thufail. Ia menunjuk ke salah satu jenazah, “Jenazah siapa ini?” Hazrat Amru menjawab, “Ini adalah Aamir bin Fuhairah.” Amir bin Thufail berkata, “Saya melihat ia setelah dibunuh diangkat ke langit, yang mana sampai sekarang saya melihatnya berada diantara langit dan bumi. Kemudian ia diturunkan ke bumi.”

Diceritakan ulang oleh: Mumtazah Akhtar

Sumber:  https://ahmadiyah.id/khotbah/keteladanan-para-sahabat-nabi-muhammad-saw-28

Sebelum memeluk Islam, Amir bin Fuhairah merupakan hamba kepada Thufail bin Abdullah bin Sakhbarah, yang merupakan saudara tiri kepada Abu Bakar as-Siddiq. Beliau kemudian memeluk Islam di peringkat awal, diseksa oleh kaum musyrikin, dan akhirnya dibebaskan oleh Abu Bakar as-Siddiq . 
  • Latar Belakang: Amir bin Fuhairah ialah seorang hamba yang mengalami penindasan sebelum Islam .
  • Keislaman & Pembebasan: Beliau memeluk Islam semasa dakwah awal Rasulullah SAW dan dibebaskan daripada perhambaan oleh Abu Bakar.
  • Peranan: Beliau dikenali kerana peranannya yang setia dalam membantu Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar semasa peristiwa hijrah, termasuk menggembala kambing untuk membekalkan susu di Gua Tsur . 
Beliau akhirnya syahid dalam peristiwa Bi'ru Ma'unah . 

Saat Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi kurang lebih selama 3 hari. Dalam masa persembunyiannya itu dibantu oleh Amir Bin Fuhairah yang menggembalakan kambing seperti biasanya bersama para penggembala yang lain, dia berangkat pagi sekali dan menjaga ternak-ternaknya untuk merumput. Ketika pulang sengaja ia paling belakangan dari yang lain dengan tujuan untuk singgah terlebih dahulu ke persembunyian Nabi dan Abu Bakar mengantarkan susu kambing untuk mereka.[3][4]

Abdullah ibn Uraiqith, seorang musyrik, disewa untuk menjadi penunjuk jalan menuju Yatsrib (Madinah). Tiba di Yatsrib, Abu Bakar, Bilal, dan Amir menderita sakit. Namun, berkat izin Allah, mereka pulih dengan cepat.Ketika Aisyah menanyakan sakitnya, Amir menjawab dengan lantunan syair sementara tubuhnya menggigil karena demam:

Telah kutemui kematian sebelum merasakannya.

Sungguh rasa takut telah membunuhnya dari atas

Setiap orang adalah pejuang dengan segala potensinya

bagaikan gua Tsur yang melindungi dengan dindingnya[2]

Aisyah menceritakan keadaan Amir kepada Nabi dan beliau pun berdoa, “Ya Allah, tumbuhkan cinta penduduk Madinah kepada kami sebagaimana Engkau tumbuhkan cinta Makkah kepada kami, bahkan lebihkanlah!”[2]

Nabi mempersaudarakan al-Harits bin al-Shamt dengan Amir bin Fuhairah. Setelah menetap di Madinah, Amir berusaha agar bisa senantiasa berada di dekat Nabi. la tak pernah absen mengikuti berbagai peperangan bersama kaum muslim, termasuk Perang Badar dan Perang Uhud. Dalam kedua peperangan itu Amir menunjukkan keberaniannya.[2]

Wafat

Seorang tokoh dari Nejd, Abu Barra, dari Bani Amr pada 4 H menghadap Nabi untuk meminta diutus pendakwah. Abu Barra berkata meyakinkan, “Aku akan mendampingi mereka. Utuslah mereka uncuk mengajak manusia kepada ajaranmu.”[4]

Maka, Nabi mengutus al-Mundzir bin Amr dari Bani Saidah bersama beberapa sahabat pilihan lain, termasuk al-Harits bin al-Shamt, Haram bin Miihan dari Bani Adi al-Najjar, Urwah bin Asma bin al-Shalt al-Silmi, Nafi bin Budail bin Warqa al-Khuza’i, dan Amir bin Fuhairah . Mereka inilah yang ditunjuk menjadi utusan Nabi yang ternyata jebakan di Bir Ma'unah.[2]

Amir berpartisipasi dalam Pertempuran Bir Ma'una, 130 km sebelah timur kota Madinah, pada bulan Juli atau Agustus 625.[5] Ketika ia ditusuk oleh tombak yang dihantamkan dari tangan Jabbar bin Salma, ia berseru lantang, "Demi Allah. Aku telah menang, wahai Jabbar bin Salma!" Dia termasuk orang pertama yang wafat dalam pertempuran tersebut. Urwah meriwayatkan bahwa tubuhnya tidak pernah ditemukan, karena "para malaikat telah menguburkannya" dan dia langsung diangkat ke Surga. Beberapa waktu kemudian Jabbar bertanya apa yang dimaksud dengan menang. Saat dia paham bahwa yang dimaksud menang adalah Surga, itulah saat di mana dia memutuskan masuk Islam.[1]

Amir bin al-Thufail bertanya ke pada Nabi, “Siapakah orang yang ketika terbunuh engkau melihatnya diangkat antara langit dan bumi sehingga langit berada di bawahnya?” Nabi berkata,"Dialah Amir bin Fuhairah.”[2] Nabi lalu mendoakan siksaan adzab selama 30 Qunut solat subuh bagi pelaku pembantaian Bir Maunah.[4]

Referensi

  1.  Muhammad bin Saad. Kitab al-Tabaqat al-Kabir vol. 3. Translated by Bewley, A. (2013). The Companions of Badr, hlm. 176-177. London: Ta-Ha Publishers.
  2.  Muhammad Raji Hassan, Kinas (2012). Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi. Jakarta: Penerbit Zaman. ISBN 978-979-024-295-1
  3.  https://dalamislam.com/sejarah-islam/kisah-amir-bin-fuhairah diakses 10 Desember 2019
  4.  Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1
  5.  Muhammad bin Ishaq. Sirat Rasul Allah. Translated by Guillaume, A. (1955). The Life of Muhammad. Oxford: Oxford University Press.

JEJAK SIRAH
𝗝𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗛𝗶𝗷𝗿𝗮𝗵 𝗕𝗮𝗴𝗶𝗻𝗱𝗮 𝗡𝗮𝗯𝗶 𝗦𝗔𝗪
Jarak perjalanan diantara Mekkah dan Madinah adalah lebih kurang 410km.
Baginda Nabi SAW telah ditemani oleh Abu Bakar r.anhu, Amir Bin Fuhairah (hamba Abu Bakar) dan Abdullah Bin Uraiqit (penunjuk jalan).
Perjalanan hijrah Baginda Nabi SAW daripada Gua Thur hingga ke Quba memakan masa lebih kurang 8 hari dan ada beberapa pandangan yang mengatakan lebih dari itu.
Dalam perjalanan ini Baginda Nabi SAW memilih untuk mengambil jalan yang berbeza daripada laluan yang biasa dilalui oleh kafilah.
Semoga Allah membalas Baginda Nabi SAW dengan sebaik-baik ganjaran diatas pengorbanan Baginda.
➖ Garisan terus: Jalan Baginda Nabi SAW
▪️▪️▪️ Garisan putus2: Jalan biasa yang dilalui oleh kafilah.




Abdullah bin Uraiqith

 Abdullah bin Uraiqith (atau Uraiqit) adalah seorang penunjuk jalan musyrik dari kaum Quraisy yang diupah oleh Abu Bakar untuk memandu Nabi Muhammad SAW dan dirinya dalam perjalanan Hijrah penting dari Makkah ke Madinah; beliau terkenal kerana kejujuran dan keandalannya dalam menjalankan tugas penunjuk arah meskipun belum memeluk Islam, membawa mereka melalui laluan tidak biasa sehingga selamat tiba di Quba, seperti diceritakan dalam Sirah Nabawiyah,. 

Peranan dan Peristiwa Utama:
  • Diupah: Abu Bakar mempercayai keahlian Abdullah bin Uraiqith sebagai penunjuk jalan (guide) dan mengupahnya untuk membawa mereka ke Madinah,.
  • Janji Kerahsiaan:
     Abdullah bin Uraiqith berjanji untuk menjaga kerahsiaan perjalanan Hijrah ini,
    .
  • Pemandu Arah: Beliau menggunakan laluan pesisir pantai yang tidak biasa (menuju selatan ke Yaman, kemudian ke barat laut) untuk mengelakkan penjejak dari Makkah,.
  • Keyakinan: Walaupun masih musyrik (menyembah Latta dan Uzza), kejujurannya dalam mengemudi perjalanan penting ini menunjukkan amanah dan kebolehpercayaan,. 
Sumbangan dalam Hijrah:
  • Abdullah bin Uraiqith adalah salah satu daripada segelintir orang yang mengetahui rancangan Hijrah,.
  • Beliau menjadi kunci keselamatan dalam perjalanan tersebut, memastikan Nabi SAW dan Abu Bakar sampai ke destinasi tanpa dikesan

Ummu Ma'bad r.anha

 Di antara orang-orang yang namanya berkait rapat dengan peristiwa besar hijrah Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah adalah tetamu kita yang penuh berkah, Ummu Ma’bad Al-Khuza’iyyah ra. (atau Ummu Mabad).

Tidak ramai yang mengenalinya pada zaman jahiliah kerana beliau bukanlah seorang tokoh yang terkenal. Dia hanyalah seorang wanita yang tinggal di pedalaman padang pasir yang serba sederhana. Dia hanya dikenali oleh persekitaran khemah dan saudara mara di sekelilingnya sahaja.

Namun, pada zaman Islam, dia menjadi wanita yang sangat terkenal kerana Nabi saw pernah menjadi tetamunya ketika sedang dalam perjalanan hijrah yang penuh berkah ke kota Madinah.

Nama sebenarnya ialah Ummu Ma’bad ra adalah ‘Atikah binti Khalid bin Munqidz. Beliau adalah saudara wanita dari Khunais bin Khalid Al-Khuza’i Al-Ka’bi, seorang sahabat Rasulullah saw yang cukup terkenal.

Khunais adalah seorang perwira gagah berani yang terlibat dalam proses pembebasan kota Mekah. Ketika itu, dia bergabung dengan pasukan pasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Al-Walid ra dan terbunuh pada hari itu juga sebagai syahid, semoga Allah meredhainya.

Dalam perjalanan hijrah, Rasulullah saw melalui khemah berhampiran dengan Ummu Ma’bad Al-Khuza’iyyah, seorang wanita yang kuat dan cukup terkenal di kawasan pedalaman. Dia suka berdiri di halaman khemah dan sentiasa bersedia memberi makan dan minum kepada sesiapa sahaja yang lalu di hadapannya.

Ketika Nabi saw dan Abu Bakar ra sampai di situ, mereka bertanya, “Apakah engkau mempunyai makanan atau minuman?” Ummu Ma’bad menjawab, “Demi Allah, seandainya kami masih mempunyai sesuatu maka kami tidak akan segan-segan untuk menjamu kalian. Biri-biri tidak lagi mengeluarkan susu kerana tahun ini sangat kering.”

Rasulullah saw melihat seekor biri-biri kurus di sebelah khemah, lalu bertanya, “Wahai Ummu Ma’bad, mengapa biri-biri ini ada di sini!” Ummu Ma’bad menjawab, “Biri-biri ini tidak boleh bergabung dengan kumpulannya kerana tidak dapat berjalan jauh.”

Rasulullah saw bertanya lagi, “Apakah susunya masih ada?” Ummu Ma’bad menjawab, “Dia tidak mungkin dapat mengeluarkan susu lagi.” Rasulullah saw berkata, “Sudikah engkau mengizinkan aku memerah susunya?” Ummu Ma’bad menjawab, “Tentu. Jika kamu rasa biri-biri itu masih boleh diperah, maka lakukanlah.”

Rasulullah saw mendekati biri-biri itu dan menggosok susunya sambil membaca basmalah dan berdoa. Tiba-tiba, biri-biri tersebut merenggangkan kedua-dua kakinya dan air susunya mengalir deras.

Rasulullah saw meminta Ummu Ma’bad mengambilkan bekas besar yang biasa digunakan untuk minum sekeluarga. Kemudian, beliau memerah susu biri-biri tersebut sehingga bekas penuh. Beliau menyuruh Ummu Ma’bad agar meminumnya sehingga kenyang lalu disusuli oleh sahabat-sahabatnya, sedangkan beliau sendiri meminumnya sesudah mereka.

Kemudian beliau memerah lagi susu biri-biri tersebut dalam bekas sehingga penuh. Selepas itu, beliau mengucapkan selamat tinggal kepada Ummu Ma’bad untuk meneruskan perjalanan. Tidak lama kemudian, suami Ummu Ma’bad tiba di khemah sambil menghalau biri-biri yang kurus kering dan berjalan terpincang-pincang kerana lemah.

Apabila matanya melihat susu di dalam bekas, Abu Ma’bad terbeliak. Dia bertanya dengan hairan, “Dari mana engkau dapatkan susu ini, bukankah biri-biri kita tidak ada di sini? Di khemah juga tidak ada biri-biri yang susunya dapat diperah?”

Ummu Ma’bad menjawab, “Memang benar, demi Allah. Hanya saja, tadi ada seorang yang penuh berkah lalu di sini. Dia berkata begini dan begini, sedangkan penampilannya begini dan begini.”

Abu Ma’had berkata, “Demi Allah, aku yakin dialah orang yang sedang dicari oleh orang-orang Quraisy. Wahai Ummu Ma’bad, cuba terangkan ciri-cirinya kepadaku.”

Ummu Ma’bad menjelaskan, “Dia sangat tampan, wajahnya memancarkan cahaya, perawakannya sempurna, perutnya tidak besar dan kepalanya tidak kecil. Wajahnya sangat gagah, bola matanya hitam dan bulu matanya memanjang. Suaranya lantang, lehernya panjang, matanya sangat jernih, keningnya jelas dan rambut kepalanya sangat hitam. Apabila diam, dia kelihatan sangat berwibawa dan ketika bercakap, kelihatan sangat menakjubkan. Jika dilihat dari jauh maka dia kelihatan bersinar, dan jika dilihat dari dekat maka dia sangat indah dan menarik. Kata-katanya sedap didengar, nadanya serius, tidak terlalu pendiam dan tidak pula banyak bicara yang tidak berguna. Kata-katanya bagaikan berlian yang tersusun rapi. Perawakannya sedang tidak terhina kerana terlalu pendek dan tidak pula menyusahkan kerana terlalu tinggi. Dia bagaikan dahan pokok yang diapit oleh dua dahan lain sehingga dia kelihatan yang paling indah dan terbaik di antara ketiga-tiganya. Dia ditemani oleh beberapa sahabat yang selalu menjaganya. Jika dia berbicara, maka mereka akan mendengar dengan teliti. Jika dia menyuruh, maka mereka segera melakukannya. Dia benar-benar disegani dan layak menjadi pemimpin yang disukai oleh pengikut-pengikutnya. Dia tidak suka bermasam muka dan tidak suka mengeluh.”

Abu Ma’bad berkata, “Demi Allah, itulah ciri-ciri orang yang sedang dicari oleh orang-orang Quraisy dengan alasan yang telah mereka jelaskan. Sebenarnya, sejak awal aku sudah tertarik dan ingin menjadi pengikutnya dan jika ada kesempatan maka aku akan melakukannya.”

Serentak dengan peristiwa yang berlaku di khemah Ummu Ma’bad ini, di Mekah terdapat khabar angin yang menjelaskan kejadian di khemah Ummu Ma’bad. Semua orang mendengarnya tetapi tidak melihat siapa yang mengatakannya.

Semoga Allah, pemilik Arasy, memberi balasan terbaik kepada dua sahabat yang singgah di khemah Ummu Ma’bad. Persinggahan dan pemergian mereka membawa kebaikan. Sungguh bahagia, siapapun yang menjadi sahabat Muhammad.

Wahai keturunan Qushai, sesungguhnya segala perbuatan kalian yang telah digagalkan oleh Allah tidak layak dibalas dengan kemuliaan. Bani Ka’ab tidak perlu gelisah dengan anak perempuan mereka kerana khemahnya menjadi tempat berteduh bagi orang-orang mukmin. Tanyakan kepada saudara perempuan kalian tentang biri-biri dan bekasnya kerana jika kalian bertanya kepada biri-biri, maka dia pasti akan bersaksi.

Asma’ binti Abu Bakar berkata, “Selama ini kami tidak tahu ke mana Rasulullah saw pergi. Tetapi, ketika suara jin itu terdengar dari daerah rendah kota Mekah dan membacakan bait-bait puisinya tadi, sementara orang-orang Quraisy terus mengikutinya dan mendengar kata-katanya, tetapi tidak melihat orangnya sehingga suara itu keluar dari daerah tinggi kota Mekah maka kami mengetahui tujuan Rasulullah saw bahawa beliau menuju ke kota Madinah.”

Iman telah menyentuh lubuk hati Ummu Ma’bad sejak pertama kali mendengar dan melihat Rasulullah saw. Buktinya, ketika beberapa pemuda Quraisy yang mengejar Rasulullah saw menemuinya dan bertanyakan tentang Rasulullah saw, Ummu Ma’bad bimbangkan beliau sehingga tidak memberikan jawapan yang benar. Dia berkata, “Kalian bertanyakan sesuatu yang tidak pernah aku dengar sejak setahun yang lalu.”

Memeluk Islam

Ummu Ma’bad sangat kagum dengan berkat yang dia saksikan secara langsung dari Rasulullah saw sehingga beberapa ketika kemudian, dia dan suaminya menemui beliau dan berbaiat kepadanya untuk menjadi muslim yang baik.

Pada suatu hari, Ummu Ma’bad menghadiahkan seekor biri-biri kepada Nabi saw. Namun, begitu mengejutkan baginda menolaknya. Hal ini membuatkan Ummu Ma’bad tidak senang hati.

Para sahabat berkata, “Rasulullah saw menolak hadiahmu kerana beliau melihat susu biri-biri itu sangat baik.” Berdasarkan saranan ini, Ummu Ma’bad menghadiahkan lagi biri-biri yang tidak mempunyai susu dan ternyata Rasulullah saw menerimanya. Ummu Ma’bad sentiasa ingin menyenangkan Rasulullah saw.

Ummu Ma’bad ra. menghabiskan masa hidupnya di bawah naungan iman dengan tekun melaksanakan solat, puasa dan ibadah kepada Allah Taala. Hal ini membuat hatinya sangat senang dan bahagia. Dia hidup di dalam syurga dunia yang pastinya akan menghasilkan kehidupan baru di dalam syurga di akhirat kelak.

Ummu Mabad ra. sangat gembira jika mendengar berita tentang kemenangan umat Islam dalam perang melawan musuh mereka dan sangat sedih jika yang terjadi adalah sebaliknya. Hati Ummu Ma’bad ra selalu terpaut dengan Islam dan kaum muslimin sehingga dia mendapat berita duka yang sangat menyedihkan iaitu berita kewafatan Rasulullah saw.

Kesedihan Ummu Ma’bad ra. tidak terperi sehingga hatinya hampir hancur. Dia sentiasa teringat pertemuan pertamanya dengan Rasulullah saw, iaitu ketika beliau singgah di khemahnya dalam rangkaian perjalanan hijrah ke Madinah.

Namun, Ummu Ma’bad ra, tidak larut dalam kesedihannya, dia tahu bahawa sikap redha adalah kunci segala kebaikan sehingga dia bersabar, redha dan menyerahkan kesedihan pemergian Nabi saw kepada Allah SWT, agar mendapat pahala orang-orang yang sabar. Wallahualam.

 

Sumber: Mahmud Al-Mishri. 2006. 35 Sirah Shahabiyah (35 Sahabat Wanita Rasulullah saw.). Jilid 2. Bandung: Al-I’tishom.